Curhat Bidan
curhat bidan
curhat bidan

Perdarahan Persalinan Penyebab Terbesar Kematian Ibu

 

Ibu adalah sosok perempuan yang paling berjasa dalam kehidupan seorang anak. Kasih ibu sepanjang masa, begitulah peribahasa yang kita kenal untuk menggambarkan betapa besarnya kasih sayang ibu untuk anaknya, tak ada perumpamaan seindah apapun mungkin yang sebanding dengan realita kasih sayang yang ibu berikan dengan tulus kepada kita. Ibu adalah anggota keluarga yang berperan penting dalam mengatur semua terkait urusan rumah tangga, pendidikan anak, dan kesehatan seluruh keluarga.

Dalam penyelenggaraan upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak mendapat perhatian khusus. Penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu penting untuk dilakukan pemantauan. Hal tersebut dikarenakan Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator yang peka dalam menggambarkan kesejahteraan masyarakat di suatu negar.

Kematian ibu menurut definisi WHO adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penangananya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera.

Pemerintah bersama masyarakat bertanggung jawab unutk menjamin bahwa setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, mulai dari saat hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih, dan perawatan  pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, serta akses terhadap keluarga berencana.

 Di samping itu, pentingnya melakukan intervensi kepada kelompok remaja dan dewasa muda dalam upaya percepatan penurunan AKI. Negara berkembang termasuk Indonesia menyumbang 99% dari total kematian ibu. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama dan terbesar. Salah satu penyebab kematian ibu pada persalinan adalah perdarahan.

Perdarahan dalam persalinan didefinisikan sebagai hilangnya darah sebanyak 500ml atau lebih dari organ-organ reproduksi saat bayi lahir. Beberapa penyebab Perdarahan persalinan :

Rupture Uteri

Ruptura uteri adalah robekan dinding Rahim akibat dilampauinya daya regang yang berlebihan.  tanda gejalanya adalah :

1. Nyeri tajam pada perut bawah saat kontraksi hebat memuncak.

2. Perdarahan vagina

3. Terdapat tanda dan gejala syok, denyut nadi meningkat, tekanan darah menurun dan nafas pendek (sesak).

4. Bagian  presentasi (yang berada di bawah misalnya bokong/kepala) dapat digerakkan diatas rongga panggul

5. Bagian janin lebih mudah dipalpasi (di raba)

6. Gerakan janin dapat menjadi kuat dan kemudian menurun menjadi tidak ada gerakan dan denyut jantung janin sama sekali

7. Kemungkinan terjadi muntah

8. Nyeri tekan meningkat diseluruh perut

9. Perkembangan persalinan menurun

10. Perasaan ingin pingsan

11. Hematuri (kencing darah) karena kandung kencing teregang atau tertekan

Penyebab Terjadinya Ruptura Uteri

a.    Kecelakaan, seperti jatuh dan tabrakan

b.    Disproporsi janin (terlalu besar)

c.    Disproporsi panggul (panggul sempit)

d.    Partus macet (persalinan lama)

e.    Trauma

f.     Riwayat caesar

g.    Abortus (keguguran) sebelumnya

h.    Miomektomi (operasi pada rahim karena adanya tumor)

Atonia Uteri

Atonia uteri adalah keadaan lemahnya kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat penempelan plasenta setelah bayi dan plasenta lahir. Lemahnya kontraksi miometrium (lapisan dinding rahim) merupakan akibat dari kelelahan karena persalinan lama atau persalinan dengan tenaga besar, terutama bila mendapatkan stimulasi (obat-obatan untuk merangsang kontraksi). Faktor–faktor kecenderungan terjadinya Atonia uteri meliputi :

1.   Regangan rahim yang berlebihan dikarenakan Polihidramnion (air ketuban yang berlebihan), kehamilan kembar, janin besar dan lain-lain.

2.    Proses Persalinan yang lama  

3.    Persalinan yang terlalu cepat

4.    Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin

5.    Multiparitas/anak lebih dari 4

6.    Ibu dengan usia yang terlalu muda (kurang dari 20 tahun)  dan terlalu tua (lebih dari 35 tahun)

7.    Anemia (kurang darah)

8.    Jarak kehamilan yang dekat (kurang dari dua tahun).

9.    Bekas operasi Caesar.

10.  Pernah abortus (keguguran) sebelumnya.

Tanda dan Gejala

1.    Perdarahan segera setelah anak lahir

2.    Perut terasa lembek atau tidak adanya kontraksi

3.    Perut terlihat membesar

4.    Kesadaran ibu menurun


Robekan Jalan Lahir

Robekan jalan lahir adalah terpotongnya/sobeknya selaput vagina, cincin selaput dara,serviks, portio septum rektovaginalis akibat dari tekanan benda tumpul

Robekan jalan lahir meliputi

1.    Robekan serviks

Robekan yang terjadi pada persalinan di daerah mulut rahim.

2.    Robekan perineum

Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Penyebab robekan perineum yaitu kepala janin terlalu cepat lahir, pada perineum terdapat banyak jaringan parut, tidak mampu berhenti mengejan, kerapuhan pada perineum, bayi yang besar, kelahiran bokong dan lain-lain

Rentensio Plasenta

Retensio Plasenta adalah belum lepasnya plasenta melebihi waktu setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera. Beberapa faktor Penyebab retensio plasenta :

a.    Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh dan melekat lebih dalam.

b.    Plasenta sudah terlepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan meyebabkan perdarahan yang banyak atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim yang akan menghalangi plasenta keluar

c.    Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan. 

Inversio Uteri

Inversio Uteri adalah salah satu komplikasi persalinan ketika bagian dari dinding rahim bagian atas (fundus) terbalik ke arah bawah bahkan terkadang sampai keluar menonjol sampai mulut rahim (serviks) dan ke dalam vagina.

penyebab Terjadinya Inversio Uteri

Biasanya, setelah melahirkan normal, kontraksi rahim akan menyebabkan plasenta terpisah dari dinding rahim. Hal ini biasanya terjadi dalam waktu lima sampai sepuluh menit setelah bayi lahir, meskipun mungkin memakan waktu lebih lama. Selama Anda tidak mengeluarkan banyak darah, dokter atau bidan dapat menunggu beberapa saat agar plasenta melepas dengan sendirinya.

Setelah mereka melihat tanda-tanda bahwa plasenta telah lepas, maka Anda akan dituntun untuk melahirkan plasenta. Perut bagian luar rahim akan ditekan dan satu tangan lainnya menegangkan tali pusat sampai akhirnya plasenta benar-benar terlahir.

Jika plasenta tidak lepas dengan sendirinya selama 30 menit, maka dokter akan melakukan tindakan yang disebut dengan manual plasenta, prosedur ini dilakukan dengan memasukkan tangan penolong ke dalam rahim melalui vagina sampai uterus untuk mencapai plasenta dan melepaskannya dari dinding rahim.

Terkadang, plasenta tidak terlepas dengan normal, dan upaya untuk melahirkan plasenta yang belum lepas ini bisa menyebabkan inversio uteri. Namun hal ini juga bisa terjadi tanpa didahulu oleh kondisi yang seperti ini. Beberapa faktor yang terkait dengan peningkatan risiko inversio uteri meliputi:

a.    Persalinan sebelum waktunya

b.    Persalinan yang lama (lebih dari 24 jam).

c.    Penggunaan relaksan otot magnesium sulfat selama persalinan.

d.    Tali pusat yang pendek.

e.    Menarik terlalu keras tali pusat pada saat melahirkan plasenta, terutama jika plasenta melekat di fundus.

f.     Plasenta akreta (plasenta yang menempel terlalu dalam ke dalam dinding rahim) sehingga sulit terlepas.

g.    Kelainan kongenital (bawaan) atau kelemahan dari rahim.

Tidak sedikit ibu yang bersalin mengalami perdarahan baik itu yang desebabkan oleh atonia uteri, rupture uteri, robekan jalan lahir, plasenta previa maupun inversio uteri. Hal ini menyebakan tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Penanganan dengan kasus ini harus ditangani oleh bidan berserta dokter kandungan di rumah sakit. 

By Citra Dewi Amd.Keb - Persalinan Senin, 19 Februari 2018 11:41:15

Anda harus menjadi member untuk memberikan komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar

Diskusi Terkait
Tambah Pertanyaan


  • cesar

    1 Balasan

    Persalinan

    maaf sebelumnya. saya mau tanya. istri saya melahirkan anak pertama dengan operasi cesar. sebab air ketuban sudah pecah pada bukaan 2. dan sekarang sudah hamil yg kedua, kata dokter kemungkinan…

  • Cara Untuk Menghilangkan Luka Yang Hitam

    1 Balasan

    Persalinan

    Selamat pagi dok. Saya memiliki bekas luka yang memang cukup hitam dibagian kulit dan susah sekali untuk hilang. Saya mau bertanya, apakah ada cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan masalah…

  • Alasan kenapa ibu bisa meninggal saat melahirkan

    1 Balasan

    Persalinan

    Sore bu, saya mau nanya nih. Saat ini saya mengandung usia kehamilan 8 bulan, menjelang melahirkan saya menjadi banyak ketakutan sekali. Takut terjadi apa-apa saat persalinan yang nantinya bisa meibuhayakan…

  • Jenis persalinan apa yang baik untuk saya?

    1 Balasan

    Persalinan

    Selamat siang, mohon sarannya ya bu bidan untuk jenis persalinan apa yang baik untuk saya nanti. Saat ini saya mengandung usia 5 bulan. Saya mempunyai riwayat penyakit asma, namun memang…

  • Amankah episiotomi saat persalinan?

    1 Balasan

    Persalinan

    Selamat sore bu bidan, saat ini saya sedang mengandung usia 8 bulan, dan setelah melakukan USG ternyata bayi saya mempunyai berat badan yang tergolong bayi besar. Kata dokter, saya lebih…


Persalinan
10 Tips Meringankan Rasa Sakit Saat Bersalin

Persalinan memang biasanya menyakitkan. Namun,…

Persalinan
Mengenal Lebih Jauh Tentang Posisi Jongkok Saat Persalinan

Pada umumnya, perempuan melahirkan dengan…

Persalinan
Risiko Bayi Lahir Sungsang Dan Tips Kelahiran Sungsang

Bayi sungsang merupakan kondisi kehamilan…

Tanya Bidan
Top