Faktor Penyebab Sariawan Pada Anak-Anak

Share Dan Tag Teman Kamu Di :

  • Salah satu penyakit yang sering menyerang anak-anak ialah sariawan, sariawan timbul akibat kekurangan vitamin C dan serat. Sariawan adalah benjolan pada daerah mulut yang berwarna putih kekuningan. Sariawan yang muncul pada umumnya berjumlah lebih dari satu, karena itu keadaan ini sangat mengganggu anak-anak terutama katika anak makan. 

    Rasa perih saat makan akan membuat anak-anak tidak bisa memakan makanannya. Sariawan ini menyerang bagian daerah bibir, pipi bagian dalam dan juga lidah.

    Penyabab dari sariawan ini belum diketahui dengan pasti namun ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab sariawan diantaranya:

    • Kurangnya mengkonsumsi vitamin C, B dan zat besi pada anak.
    • Kebersihkan mulut yang kurang terjaga.
    • Akibat dari jamur seperti candida albicans.
    • Selalu memakan makanan yang berminyak seperti gorengan.
    • Sistem kekebalan tubuh yang mengalami penurunan.
    • Akibat luka yang muncul pada mulut yang mengalami infeksi bakteri contonhya seperti tergigit dan mengkonsumi makanan yang masih panas.
    • Meminum minuman yang terlalu asam

    Itulah beberapa fator yang bisa menjadi penyebab munculnya sariawan pada anak-anak, untuk mengatasi sariawan pada anak bunda bisa memberikankanya obat sariawan yang sudah banyak dijual di toko obat. Atau bunda bisa juga mengatasi sariawan dengan ramuan alami yang masih tradisional agar anak tidak menolak melakukan pengobatan. kami akam memberikan sebuah tips membuat obat sariawan dengan menggunakan bahan alami.

    Mengatasi sariawan pada anak dengan menggunakan Yoghurt

    Produk olahan susu ini dianggap sebagai obat sariawan yang memiliki reaksinya lansung membunuh akar infeksi dari sariawan. Cara mengobatinya cukup mudah. Bunda bisa menyuruh anaknya untuk berkumur dengan yogurt selama 30 detik. Mengkonsumsi Yoghurt dua gelas sehari juga sangat baik untuk anak-anak.

    Baking Soda

    Baking soda mengandung sifat anti-bakteri yang sangat cocok digunakan untuk membunuh mikroorganisme berbahaya yang hidup di dalam tubuh, seperti jamur candida penyebab sariawan.

    Cara mengobati sariawan dengan baking soda bisa diawali dengan mencampur 10 ml air dengan 1 sendok teh baking soda, kemudian aduk hingga berbentuk pasta. Poles pasta obat pada seluruh area mulut, kemudian diamkan sampai mengering, baru dibersihkan dengan cara berkumur.

    Baking soda juga cocok dijadikan obat sariawan untuk anak bayi karena tidak memberi efek samping yang membahayakan. 

    Dengan temulawak

    Bahan: Rimpang temulawak 1 jari, asam kawak 1 jari, gula aren dan air satu gelas.

    Cara pembuatannya: Cuci bersih temulawak, kemudian ptong tipis-tipis dan masukan kedalam wadah bersih bersama air, dan asam tawak. Masaklah hingga mendidih selama 15 menit. Angkat dan tuangkan pada gelas dengan menambahkan gula aren secukupnya, setelah itu bunda bisa berikan pada anak untuk diminum. Diminum 2 kali 1/2 gelas sehari  pada pagi dan sore hari. 

    ketiga tips tersebut bisa bunda coba untuk mengatasi sariwaan pada anak. Kebersihan mulu anak-anak adalah hal yang paling penting untuk dijaga agar mulut tidak mudah terkena penyakit sehingga kenyaman anak tetap terlindungi.

    About : Citra Dewi Amd. Keb

    Citra Dewi Amd. Keb

    Bidan Citra Dewi Am.Keb merupakan alumnus Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi angkatan 2016 yang lahir pada 15 juni 1995. Aktif sebagai Interactive Medical Advisor di www.curhatbidan.com. Bagi saya menjadi seorang bidan adalah pekerjaan mulia yang memberikan pelayanan dengan hati nurani. Bidan berperan dalam luang lingkup kesehatan dasar masyarakat. Mulai dari bayi, remaja, pasangan usia subur sampai lanjut usia. Saya berharap mampu memberikan pelayanan kesehatan keluarga anda.

    Untuk konsultasi via WhatsApp klik disini :

  • Citra Dewi Amd.Keb - April 8, 2017

    Siang ibu bidan, saya mau tanya apa ibu hamil yang mual-mual dan eneg saat makan itu wajar? Saya juga kehilangan nafsu makan jadinya, solusinya gimana ya?

    Perlu Jawaban
    Diskusi Dari:
    Aisyah Putri Setiawan

    Hallo bu bidan.. usia saya 35 thn dan sudah memiliki anak berusia 10 tahun yang lahir di tahun 2006, pada tahun 2008 saya hamil kembali tapi janin tidak berkembang dan harus kuret. Setelah kuret saya langsung pakai KB spiral selma 6 tahun. Dan sudah 2 tahun berjalan saya sudah lepas KB nya. Pertanyaan saya bu bidan, apakah saya termasuk kategori infertilitas sekunder karna sampai saat ini kehamilan belum terjadi kembali bu bidan. Terima kasih

    Dijawab Oleh : Aisyah Putri Setiawan
    Diskusi Dari:
    Tivaa Rachmawati Putri

    Siang bu bidan, saya sedang hamil muda anak pertama bu bidan. Katanya ada salah satu gangguan mental yang bisa terjadi pada ibu hamil muda yang dinamakan dengan “Baby Blues”. yang ingi saya tanyakan apa sih itu baby blues? benarkah sering menyerang ibu hamil muda? jika benar bagaimana cara saya untuk menghindarinya? lalu seperti apa gejala baby blues tersebut? saya khawatir bu, mohon untuk dijawab bu bidan. Terimakasih

    Perlu Jawaban
    Diskusi Dari:
    Gigin Gumay

    Selamat pagi
    Saat ini saya tengah hamil anak pertama, sehingga saya belum memiliki banyak pengalaman di kehamilan ini. Untuk menjaga kehamilan saya tetap sehat dan tumbuh kembang janin saya tetap terjaga. Nutrisi baik apa saja yang dibutuhkan selama kehamilan dan menu makanan apa yang bisa memenuhi asupan nutrisi tersebut? Terimakasih.

    Dijawab Oleh : Gigin Gumay
    Diskusi Dari:
    Isti Rahmawati

    Selamat siang,
    Saya mau menanyakan usia kehamilan saya 6 minggu. Saya sempat terkena batuk kering sampai menekan di perut bahkan sampai keluar keputihan saat batuk. Saat hari ke 4 saya terjadi flek. Saya langsung periksa k dr kandungan. Saat di usg terdapat kantung janin tapi janin belum terlihat lalu dokter memeriksa menggunakan alat langsung dr dlm kandungan. Dan janin terlihat. Tapi detak jantung belum terlihat. Dr mengatakan bahwa resiko besar keguguran. Sehingga saya di minta bedrest dan diberi obat penguat. Yang saya tanyakan, apakah mungkin terdapat janin tapi tidak berkembang? Dan seberapa besar resiko bisa berkembang dengan normal? Dan apa yang harus saya lakukan selain bedrest? Mohon informasinya

    Dijawab Oleh : Isti Rahmawati