Ini Akibat Anak Sering Melihat Orang Tua Bertengkar

Share Dan Tag Teman Kamu Di :

  • dampak pertengkaran di depan Anak

    Beda pendapat dengan pasangan bukan berarti harus bertengkar. Apalagi dihadapan anak-anak, ini sangat tidak baik. Perkelahian orang tua bisa berdampak pada anak di segala usia. Soal perkelahian orang tua, tidak ada istilah bahwa anak tidak akan terdampak jika ia masih sangat kecil maupun sudah dewasa.
    Oleh karena itu dibutuhkan kebijaksanaan orang tua dalam mengelola emosinya ketika sedang tidak akur dengan pasangan. Karena di situlah kunci pembentukan karakter anak, terutama yang berkaitan dengan kesehatan mentalnya.

    Dampak Anak Yang Melihat Orang Tua Bertengkar

    1. Rasa bersalah

    Anak yang usianya lebih dewasa akan merasa bahwa dia bertanggung jawab atas terjadinya pertengkaran orang tua. Apalagi jika ia mengetahui bahwa sumber pertengkarannya ada hubungannya dengan anak.Misalnya, tentang sekolah, rumah berantakan, maupun tingkah laku anak yang dianggap memicu pertengkaran orang tua. Anak akan membangun sensitifitas emosinya dengan suka menyalahkan diri sendiri dan tekanan emosional lainnya.

    2. Perkembangan otak terganggu

    Anak yang melihat orang tua bertengkar di depannya maupun melihat ibunya mengalami kekerasan dalam rumah tangga ternyata memiliki pola otak yang sama dengan tentara di medan perang. Otak anak usia 11 tahunan akan terdampak pada bagian cerebellums kecil yang berhubungan dengan regulasi stres dan pengembangan sensorik.
    Anak di bawah usia tersebut tidak dapat sepenuhnya memproses situasi sosial yang kompleks. Ledakan emosional bisa memberi kenangan negatif jangka panjang pada anak.

    3. Depresi dan gangguan kecemasan

    Anak yang melihat orang tuanya bertengkar akan sulit untuk memproses emosinya sehingga ia rentan mengalami depresi maupun gangguan kecemasan. Selain itu dampak tersebut juga menyangkut neurobiologis, kognitif, dan perilaku anak.

    4. Kepercayaan diri yang rendah

    Rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman dan aman untuk anak. Jika hal tersebut tidak didapatkan oleh anak, maka anak akan merasa bingung. Alih-alih sibuk membangun kepercayaan diri mereka, anak-anak akan sibuk untuk mewaspadai dunia sekitar mereka. Saat ia dewasa nanti, ia juga akan takut untuk membangun kehidupan keluarganya sendiri. Apalagi jika saat mulai pacaran, dia juga mengalami kekerasan fisik, verbal, dan non verbal.

    5. Rentan stres dan gampang sakit

    Anak yang hidup dengan orang tua yang sering bertengkar cenderung akan lebih stres dan gampang sakit daripada anak-anak yang tinggal bersama keluarga yang hidup harmonis. Kualitas tidur yang buruk dan produksi hormon stres berupa cortisol ikut andil dalam lemahnya daya tahan tubuh anak.

    6. Rasa benci terhadap orangtuanya karena dinilai tidak saling menyayangi lagi

    Dampak ini yang harus diwaspadai karena anak bisa membenci orangtuanya karena sering melihat mereka bertengkar. Anak menilai orangtuanya tidak lagi saling menyayangi karena sering berselisih seperti layaknya musuh.

    7. Anak Dihantui Rasa Takut Seumur Hidupnya

    Anak akan merasa ketakutan ketika melihat orangtuanya bertengkar. Rasa takut anak semakin menjadi-jadi ketika ia melihat orangtuanya saling memaki sambil memukul dan melempar barang-barang. Anak dikhawatirkan akan tumbuh menjadi orang yang penakut apabila selalu melihat orangtuanya bertengkar ketika ia masih kecil.

    8. Anak akan menjadi tertutup dan enggan dekat dengan orangtua

    Anak yang kerap melihat orangtuanya bertengkar, akan mengalami stress dan malu. Anak menjadi pribadi yang tertutup dan enggan untuk bertemu bahkan dekat dengan orangtuanya dan juga orang lain karena ia lebih suka menyendiri. Selain itu anak juga akan lebih sering murung. Sebisa mungkin hindari bertengkar di depan anak Anda, karena bisa mempengaruhi perkembangan mental anak.

    9. Anak menjadi tidak peduli terhadap semua aturan yang dibuat oleh orangtuanya

    Orangtua sejatinya bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya. Ketika orangtua bertengkar di depan anak, maka hal itu bisa jadi contoh yang buruk bagi anak. Padahal, setiap orangtua pasti menginginkan anaknya mematuhi semua aturan yang mereka buat, seperti tidak boleh bicara kasar, merusak barang, dan harus bersikap sopan. Dengan melihat orangtuanya saling mencaci maki dengan kata-kata yang kasar ketika sedang bertengkar, maka anak akan jadi bingung dan tidak peduli lagi terhadap semua aturan karena menilai orangtuanya yang selama ini dianggap sebagai panutan malah melanggar.

    10. Anak lebih suka beraktifitas di luar rumah karena tak tahan dengan pertengkaran orangtuanya

    Karena sering melihat orangtuanya bertengkar di rumah, maka lama kelamaan anak pun tidak tahan dengan kondisi itu. Alhasil, anak pun lebih suka untuk menghabiskan waktu di luar rumah untuk mencari ketenangan. Hal ini harus diwaspadai ketika anak beraktifitas tanpa didampingi orangtuanya karena bisa mempengaruhi perkembangan anak, misalnya anak jadi tertarik melakukan hal-hal yang buruk sebagai pelampiasannya.

    Hindari Pertengkaran Di Hadapan Anak

    Jika ingin anak memiliki mental yang sehat, ada baiknya orang tua menghindari pertengkaran di depan anak. Jika itu tak terhindarkan lagi, maka beri contoh pada anak penyelesaian masalahnya.

    Jika anak melihat bagaimana orang tua menyelesaikan masalahnya, anak akan menjadikan orang tua contoh bahwa sekalipun seseorang beda pendapat, mereka tetap bisa hidup damai dan saling mencintai.

    Orang tua yang memberikan penjelasan pada anak perbedaan pendapat mereka tentang sesuatu juga akan membuat anak tumbuh dengan pemikiran yang lebih dewasa. Karena ia akan belajar perspektif yang berbeda dan memperhatikan bagaimana jalan keluar dari masalah tersebut.

    Jangan Meminta Anak Untuk Berpihak

    Anak akan mengalami kebingungan jika orang tua justru meminta anak untuk berpihak ke salah satu dari mereka. Jika itu dilakukan, anak akan menumbuhkan kebencian di dalam dirinya, alih-alih belajar untuk meredam konflik yang ia hadapi.

    Apabila Anak Trauma

    Jika anak mengalami trauma karena pertengkaran orang tuanya, maka rubahlah kondisi keluarga agar menjadi harmonis, perlihatkan adanya perdamaian antara anda dan pasangan anda, dan meminta maaf kepada anak anda. Selain itu anda juga bisa pergi berlibur untuk mencairkan suasana dan tidak mengulangi pertengakaran di depan anak-anak. Tetepi jika hal ini tidak bisa maka terapi psikologis akan dapat membantu mengurangi dampak pada masa depan anak-anak.

    About : Citra Dewi Amd. Keb

    Citra Dewi Amd. Keb

    Bidan Citra Dewi Am.Keb merupakan alumnus Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi angkatan 2016 yang lahir pada 15 juni 1995. Aktif sebagai Interactive Medical Advisor di www.curhatbidan.com. Bagi saya menjadi seorang bidan adalah pekerjaan mulia yang memberikan pelayanan dengan hati nurani. Bidan berperan dalam luang lingkup kesehatan dasar masyarakat. Mulai dari bayi, remaja, pasangan usia subur sampai lanjut usia. Saya berharap mampu memberikan pelayanan kesehatan keluarga anda.

    Untuk konsultasi via WhatsApp klik disini :

  • Citra Dewi Amd.Keb - October 22, 2018
    Diskusi Dari:
    ANGGUN

    Usia sy saat ini 36 tahun. Dan berencana utk program kehamilan. Apakah beresiko dgn usia sy sekarang? Dua kali kehamilan tidak ada masalah. Terima kasih

    Dijawab Oleh : ANGGUN
    Diskusi Dari:
    henrylizotte

    Bagaimana mengatasi stres saat hamil

    Dijawab Oleh : henrylizotte
    Diskusi Dari:
    Rennym

    Siang dok, saya mau tanya kenapa ya ko di bagian bawah dagu saya ada benjolan yang apabila di pegang, di raba atau tersentuh itu sakit. Apa ada hubungannya dengan sariawan? Soalnya saat ini saya sedang sariawan, mohon penjelasannya dok

    Dijawab Oleh : Rennym
    Diskusi Dari:
    Khansa Adeline

    Bu saya mau bertanya, Sudah 3 tahun menikah saya belum diberikan keturunan, padahal dulu istri saya pernah hamil, tapi sayangnya keguguran saat usia kandungan 6 bulan. Tapi istri saya sampai saat ini masih belum memeriksakan diri ke dokter ahli. Apakah hal ini disebabkan karena adanya penyakit pada istri saya??

    Dijawab Oleh : Khansa Adeline
    Diskusi Dari:
    Dinda vika

    Dok saya mau bertanya, terakhir istri saya kan haid pada tanggal 8 februari hingga tanggal 14 februari. Namun setelah 1 minggu bersih dari haid, kemudian pada tanggal 20, 21, 22 istri saya mengeluarkan darah yang memang terbilang kecil hanya sebesar cendol tapi bergumpal. Namun, setiap hari hanya ada 1 gumpalan saja yang keluar ini. Yang saya mau tanyakan, ini kira kira kenapa ya dok dengan kondisi istri saya? berbahaya tidak dok, mohon penjelasannya, terimakasih.

    Dijawab Oleh : Dinda vika