×

Ruam Susu Bukan Disebabkan oleh Cipratan ASI pada Kulit Bayi

Bagikan Artikel :


Ruam yang umumnya timbul dipipi tersebut biasanya disebut ruam susu. Hal ini terjadi karena kebanyakan masyarakat menganggap bahwa ruam tersebut timbul karena ASI dari ibu mengenai kulit pipi yang secara tidak sengaja sering terkena tetesan ASI.

Dalam ilmu kedokteran ruam susu tidak disebabkan oleh ASI, meskipun memang pada sebagian kasus ruam susu timbul karena adanya riwayat alergi dari orang tuanya, atau pada saat menyusui, Anda mengonsumsi makanan alergen seperti telur, daging ayam dll.

Ruam susu juga bisa muncul karena adanya udara yang tercemar polusi, suhu yang terlalu panas, terdapat tungau atau kuman yang tak kasat mata yang ada diudara, bantal, selimut, dan benda-benda disekitar bayi. Ruam susu dapat menimbulkan rasa yang gatal dan membuat bayi menjadi rewel dan gelisah sehingga akan mengganggu kualitas tidur buah hati Anda.

Ruam susu atau juga disebut dermatitis atopik yang berbentuk bintik-bintik merah di pipi bayi, dan tak jarang kulit bayi menjadi bernanah karena sudah terinfeksi bakteri, karena ruam yang terjadi di pipi bayi sering di garuk. Untuk diketahui, ruam susu umumnya dialami oleh bayi dengan orang tua yang memiliki riwayat alergi. Ruam bisa timbul pada bayi yang mendapat ASI sesudah ibunya mengkonsumsi makanan alergen, seperti telur, daging ayam, atau kacang-kacangan.

Penyebab Ruam Susu

1. makanan

Ruam susu pada bayi justru tanda bahwa bayi alergi terhadap sesuatu, bisa dari makanan yang bunda konsumsi sehingga zat alergen masuk melalui asi yang diminum si kecil. Makanan yang bisa menimbulkan alergi (alergen) pada bayi antara lain: telur, daging ayam, keju, kacang-kacangan, metega, dan sebagainya. Sama hal-nya dengan orang dewasa, masing-masing tubuh bayi bisa merespon alergen dari berbagai jenis makanan yang berbeda.

2. Perlengkapan bayi

Kulit bayi yang sensitif bisa menyebabkan alergi oleh banyak hal seperti jamur, debu, kondisi ruangan yang kurang bersih, keringat, dan juga kebersihan kulit bayi yang kurang terjaga. Tungau dan bakteri pada bantal, selimut, dan kasur bayi juga bisa menyebabkan bayi mengalami ruam.

3. Suhu ruangan

Selain itu suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin juga dapat menimbulkan ruam pada kulit bayi.

4. Obat-obatan yang bunda konsumsi

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa bunda yang mengkonsumsi 1 gram paracetamol menyebabkan alergi pada tubuh dan wajah bayi. kandungan dalam obat-obatan dan senyawa lain yang dikonsumsi bunda akan mempengaruhi kandungan asi yang dikonsumsi si kecil.

Cara Mengatasi Ruam Susu

1. Hindari pencetus ruam. Misalnya, jika diakibatkan oleh zat-zat pada ASI, ibu yang alergi harus menghentikan konsumsi makanan alergen agar ASI tidak mencetus ruam pada bayi.

2. Hindari memandikan bayi dengan air hangat ketika bayi mengalami ruam karena air hangat dapat menyebabkan kulit bayi lebih kering, sehingga semakin gatal.

3. Mengoleskan pelembab pada area kulit pipi yang terkena ruam juga baik untuk menjaga agar kulit tidak kering dan gatal.

4. Jaga selalu kebersihan kulit bayi. Jangan biarkan bekas tetesan susu mengering tanpa dibersihkan.

Related Posts :

    5. Memberikan lotion pada bayi dengan mengoleskan pelembab kulit bayi pada area kulit yang terinfeksi segera setelah mandi. Pilihlah pelembab yang tidak mengandung parfum. Mandikan bayi dengan sabun yang mengandung pelembab jika diperlukan

    6. Jangan bantu bayi menggaruk kulit pipi yang gatal dan usahakan agar bayi tidak menggaruk bagian kulit tersebut, karena akan dapat memperburuk keadaan kulit dengan luka.

    7. Hindari paparan sinar matahari secara langsung pada kulit bayi yang mengalami ruam susu.

    8. Usahakan untuk menjaga agar kulit yang mengalami gangguan tetap kering jika udara panas atau saat bayi berkeringat. Upayakan agar bayi tetap nyaman dan berada dalam lingkungan yang sejuk.

    Klasifikasi Ruam Susu

    1. Dermatitis atopik

    Kondisi kulit yang seperti ini, biasanya terjadi pada bayi yang orang tuanya memiliki riwayat alergi ataupun asma. Dermatitis atopik bisa muncul di berbagai bagian tubuh selain pipi pada anak berusia 0-6 bulan, yaitu kening, kulit kepala, dan juga area popok. Sedangkan pada anak berusia 6-12 bulan, biasanya ruam akan muncul di daerah siku atau lutut.

    2. Dermatitis kontak

    Berbeda dengan dermatitis atopik, kondisi ini biasanya muncul akibat adanya kontak langsung antara kulit bayi dengan zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan alergi, seperti sabun, sampo, lotion, polusi, bakteri, atau karet. Jika bayi mengalami ruam seperti ini, biasanya dokter akan melakukan tes alergi padanya dan Ibu sebelum memberikan resep obat. Apabila ruam yang dialami terasa begitu gatal dan membuat si Kecil sulit tidur, umumnya dokter akan memberikan obat berupa antihistamin, obat yang biasa digunakan untuk
    meredakan reaksi alergi.

    About : Citra Dewi Amd. Keb

    Citra Dewi Amd. Keb

    Bidan Citra Dewi Am.Keb merupakan alumnus Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi angkatan 2016 yang lahir pada 15 juni 1995. Aktif sebagai Interactive Medical Advisor di www.curhatbidan.com. Bagi saya menjadi seorang bidan adalah pekerjaan mulia yang memberikan pelayanan dengan hati nurani. Bidan berperan dalam luang lingkup kesehatan dasar masyarakat. Mulai dari bayi, remaja, pasangan usia subur sampai lanjut usia. Saya berharap mampu memberikan pelayanan kesehatan keluarga anda.

    Untuk konsultasi via WhatsApp klik disini :

  • Bagikan Artikel :

    Terkahir Di Edit : July 19, 2018

    Pertanyaan Pengunjung :

    cara menemukan g-spot pada wanita

  • Oleh : Gita Febian
  • 4 tahun, 10 bulan yang lalu

    bagi saya pasangan suami istri muda sangat susah menemukan gspot pada istri saya, takutnya tidak memuaskan. Bagaimana cara kita menemukan g spot pada pasangan kita ?

  • Oleh : Gita Febian
  • Kehamilan

  • Oleh : Ria Agustin
  • 1 tahun, 1 bulan yang lalu

    Selamat siang bu bidan… Bu saya mau curhat saya masih mempunyai anak yang masih kecil dan ini saya hamil lagi tapi saya sama suami sepakat untuk tidak meneruskan kehamilan saya soalnya banyak faktor termasuk keuangan… Apa yang harus saya lakukan ya bu? Saya sudah berusaha memakai semua alat kontrasepsi tetapi tidak ada yang cocok… Mungkin ada solusi untuk saya… Usia kehamilan saya kemungkinan 4 minggu… Baru saya cek setelah 1 minggu telat haid…
    Terima kasih

    Jaga Produksi

  • Oleh : Miftahul Fikri
  • 2 tahun, 2 bulan yang lalu

    Saya duda yang ingin tanya bagaimana cara jaga kesuburan sperma di masa duda?

    cesar

  • Oleh : Tania
  • 2 tahun, 8 bulan yang lalu

    maaf sebelumnya. saya mau tanya.
    istri saya melahirkan anak pertama dengan operasi cesar. sebab air ketuban sudah pecah pada bukaan 2. dan sekarang sudah hamil yg kedua, kata dokter kemungkinan besar harus di cesar. karena yg pertama cesar dan tidak boleh persalinan dibawa ke bidan karena tidak diperbolehkan suntik pacu. sampai sekarang bekas cesar masih terasa nyeri. padahal sudah 5 tahun. dan dokter menyarankan cesar sebelum waktu kontraksi. dikarenakan posisi bayi sampai minggu ke 37 masih belum turun.
    apakah cara seperti ini baik menurut islam? atau sebaiknya saya tunggu sampai kontraksi, kemudian dibawa kerumah sakit dan tunggu keputusan dari dokter di RS? apakah memang tindakan harus cesar atau normal.
    terimakasih

    Ejakulasi terlalu cepat

  • Oleh : Aldi Ferdian
  • 1 tahun, 10 bulan yang lalu

    Bu, aku mau tanya. Umur saya 22 tahun. Bu, saya merasa kalau saya mengalami ejakulasi dini. Saya merasa kalau saya mengalami ini karena sering melakukan onani. Ingin rasanya berhenti, tapi sangat sulit.

    Baru onani sebentar, saya sudah ejakulasi dengan cepat. Yang saya khawatirkan, bila nanti saya menikah, saya takut tidak bisa melakukan hubungan seks yang lama dengan pasangan saya. Dan juga setelah saya melakukan onani, saya merasa sangat lemas sekali. Seperti ingin pingsan.

    Apakah menurut ibu, saya mengalami gangguan yang parah?

    Tanya Bidan