×

Imunisasi Anjuran bagi Kehamilan dan Manfaatnya

Bagikan Artikel :


Imunisasi adalah cara terbaik untuk memberikan kekebalan bagi manusia. Pemberian Imunisasi selama kehamilan harus mempertimbangkan risiko dari imunisasi dengan keuntungan perlindungan pada situasi tertentu. Imunisasi yang dilakukan sebelum dan selama kehamilan merupakan tindakan preventif (pencegahan) untuk meningkatkan kekebalan tubuh ibu terhadap infeksi parasit, bakteri, dan virus. Pemberian vaksin dari virus yang hidup tidak dianjurkan bagi kehamilan. Karena, selama hamil daya tahan tubuh ibu sedikit menurun sehingga pemberian vaksin hidup dikhawatirkan malah menyebabkan infeksi dan membahayakan janin. Imunisasi boleh diberikan jika vaksinnya mengandung virus mati atau tidak aktif.

Jenis Imunisasi yang Direkomendasikan pada Ibu Hamil

1. Influenza

Sebuah penelitian menunjukkan ibu hamil yang mendapatkan suntikan vaksin flu menunjukkan ibu-ibu tersebut memiliki bayi yang lebih tahan terhadap influenza. Hanya ditemukan tiga kasus flu ketika usia bayi mereka masih di bawah enam bulan. Hasil ini mendukung rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa ibu hamil seharusnya mendapatkan imunisasi influenza untuk melindungi dirinya dan calon anaknya. Infeksi ini meningkat risikonya pada ibu hamil dan bayi yang kurang gizi. Kematian akibat flu masih terjadi pada bayi usia di bawah enam bulan. Imunisasi influenza dengan virus yang tidak aktif ini bisa diberikan pada ibu hamil. Secara umum, imunisasi ini aman diberikan pada ibu hamil. Pemberian imunisasi influenza diberikan pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Setelahnya, ibu mungkin mengalami demam ringan, bengkak, dan kemerahan di daerah bekas suntikan. Lakukan imunisasi saat tubuh benar-benar dalam keadaan sehat. Setelah melakukan imunisasi, lakukan cukup istirahat, makan makanan bergizi, dan jangan dekati orang yang sedang terkena influenza karena akan mudah tertular. Penelitian terakhir menunjukkan pada penderita flu yang berulang dan berkepanjangan ternyata bisa mengakibatkan bayi yang dilahirkan lebih mudah mengalami gangguan perilaku.

2. Hepatitis B

Umumnya seseorang tidak langsung menyadari bahwa dirinya terinfeksi virus hepatitis B. Bahayanya, janin bisa ikut tertular ketika menjalani proses kelahiran. Oleh karena itu imunisasi hepatitis B sangat perlu bagi ibu hamil. Bayi baru lahir pun diwajibkan segera mendapat imunisasi Hepatitis B. Vaksin Hepatitis B terbuat dari bahan rekombinan yaitu vaksin yang dibuat dengan bahan rekayasa genetika sehingga menyerupai virus Hepatitis B. Vaksin ini aman diberikan kepada ibu hamil. Waktu pemberian imunisasi ini adalah pada kehamilan bulan pertama, kedua, dan keenam. Biasanya setelah imunisasi, timbul demam ringan dan nyeri pada bekas suntikan. Bila tidak ada
infeksi dan belum mempunyai antibodi, maka vaksin hepatitis B dapat diberikan kepada ibu hamil.

3. Tetanus Toksoid (TT) 

Di Indonesia masih banyak ibu hamil yang melakukan proses persalinan yang tidak hygienis yang dilakukan selain di tenaga kesehatan. Hal ini berisiko menimbulkan infeksi oleh kuman tetanus pada ibu dan bayi hingga jiwa mereka terancam. Rahim ibu melahirkan rentan terinfeksi kuman tetanus, sedangkan pada bayi infeksi ini dimulai dari luka pada tali pusatnya. Bakteri Klostridium tetanus pada bayi baru lahir dapat menimbulkan penyakit tetanus neonatorum yang dapat mengakibatkan kematian. Bakteri atau spora tetanus tumbuh dalam luka yang tidak steril. Misalnya, jika tali pusat dipotong dengan pisau yang tidak tajam dan tidak steril, atau jika benda apa pun yang tidak bersih menyentuh ujung tali pusat. Semua ibu hamil harus memastikan mereka telah mendapat imunisasi tetanustoksoid (TT) untuk menghindari jangkitan tetanus yang berisiko pada diri dan bayinya. Walaupun sudah mendapatkan imunisasi sebelumnya, ibu membutuhkan tambahan vaksin tetanus toksoid yang biasanya dianjurkan menjelang pernikahan. Bila terlewat, bisa diberikan saat kehamilan. Setelah diimunisasi, ibu biasanya mengalami demam ringan meski sangat jarang terjadi, agak nyeri, dan sedikit bengkak pada daerah bekas suntikan. Sesudah persalinan, ibu juga harus memastikan bahwa luka di vagina atau perutnya (akibat sesar) dalam keadaan bersih. Begitu pula tali pusat bayinya.

4. Meningococcal

Vaksin pencegah meningitis atau radang selaput otak ini terbuat dari bakteri meningococcal yang sudah mati/tidak aktif sehingga aman untuk ibu hamil. Apabila ibu hamil menderita meningitis, maka kumannya pun dapat menjalar ke otak janin. Pada ibu hamil, imunisasi ini sebaiknya diberikan setelah trimester pertama untuk menghindari risiko umum yang terjadi pada kehamilan trimester pertama seperti keguguran. Sebaiknya, lakukan imunisasi ini saat tubuh benar-benar sehat meski pada beberapa orang hanya akan muncul demam ringan.

5. Hepatitis A

Vaksin hepatitis A merupakan vaksin inaktif seperti halnya vaksin hepatitis B. Pemberian vaksin hepatitis A biasanya dianjurkan bila terdapat resiko lainnya yang lebih tinggi daripada resiko pemberian vaksin. Namun, karena vaksin ini dibuat dari virus mati atau tidak aktif, secara teoritis risiko janin terpengaruh sangat rendah. Jadi, imunisasi ini bisa diberikan pada ibu hamil, jika ada indikasi berisiko tinggi terkena penyakit tersebut. Misalnya,memiliki kelainan hati, hidup di lingkungan yang berisiko terinfeksi Hepatitis A, sering berada di Tempat Penitipan Anak (TPA), atau akan bepergian ke negara dimana penyakit ini menjadi endemis (penyakit yang sudah lama dan biasa di tempat tersebut).

6. Pneumococcal Polysaccharide Vaccine

Pemberian imunisasi Pneumococcalpada dilakukan pada trimester pertama kehamilan. Jika ibu hamil tidak berisiko tinggi terkena virus tersebut, imunisasi ini tidak perlu diberikan. Jadi, imunisasi Meningococcal bisa diberikan, terutama bagi ibu hamil yang terindikasi akan terpapar virus tersebut. Misalnya, mereka yang berencana melakukan perjalanan ke negara-negara dengan risiko terpapar virus meningococcal. Meski begitu, pemberian imunisasi ini tetap harus didasarkan pada indikasi, serta turut pula memperhitungkan faktor risiko dan keuntungannya.

Related Posts :

    7. Diphtheria, Pertussis, dan Tetanus (DPT)

    Pemberian DPT bisa dipertimbangkan, jika ibu hamil memiliki kemungkinan untuk terpapar penyakit pertussis atau batuk rejan. Misalnya, pekerja kesehatan atau mereka yang bekerja di tempat penitipan anak (TPA) yang terdapat banyak kasus pertussis. Vaksin ini diberikan pada trimester ke 2 atau ke 3. Usia kehamilan yang paling dianjurkan adalah antara 27-36 minggu.

    Vaksin yang Tidak Diperuntukan pada Kehamilan

    Ada juga beberapa jenis imunisasi yang dilarang untuk diberikan kepada Ibu hamil. Di bawah ini beberapa jenis imunisasi yang tidak diperuntukkan bagi Ibu hamil

    1. Mumps, Measles, Rubella (MMR)

    Vaksin MMR diberikan untuk mencegah penyakit campak, gondong, dan rubella. MMR ini adalah salah satu jenis vaksin aktif yang dapat berisiko menyebabkan bayi lahir cacat, kelainan mental, bahkan kematian. Karena itu, Ibu hamil hanya diperbolehkan menerima vaksin pasif. Selain itu, Ibu hamil yang tengah terpapar penyakit ini akan makin parah jika diberi vaksin. Mengetahui dampak negatif pada Ibu hamil maka sebaiknya imunisasi ini diberikan pada masa perencanaan kehamilan atau sebelum kehamilan. Jarak pemberian vaksin dan kehamilan sebaiknya tiga bulan.

    2. Human Papiloma Virus (HPV)

    Vaksin HPV bertujuan mencegah penyakit kanker mulut rahim atau serviks. Vaksin yang menggunakan virus hidup ini tidak aman bagi Ibu hamil karena dapat menyebabkan efek buruk bahkan juga pada janin.

    3. Varicella

    Vaksin Varicella ini bermanfaat untuk mencegah penyakit cacar air. Virus dalam vaksin ini dapat menginfeksi janin karena merupakan virus hidup atau aktif. Karena itu, vaksin ini sebaiknya diberikan sebelum kehamilan. Jarak pemberian vaksin dan kehamilan sebaiknya minimal satu bulan.

    4. Bacillus Calmette Guerin (BCG)

    Vaksin BCG bertujuan mencegah penyakit Tuberkolosis (TB). Ibu hamil tidak diperkenankan menerima vaksin BCG karena menggunakan virus aktif sehingga memiliki efek samping pada Ibu hamil dan janinnya

    Kontra Indikasi

    Terdapat beberapa jenis imunisasi yang harus dihindari alias tidak disarankan untuk diberikan pada ibu hamil, yakni imunisasi yang mengandung virus hidup. Secara teoritis, virus hidup memang tidak boleh diberikan, karena dikhawatirkan virus tersebut akan masuk ke janin melalui plasenta. Tidak adanya hasil penelitian yang mendukung pendapat beberapa masyarakat mengenai penyebab
    imunisasi pada kehamilan akan melahirkan anak dengan gangguan prilaku seperti autism.

    About : Citra Dewi Amd. Keb

    Citra Dewi Amd. Keb

    Bidan Citra Dewi Am.Keb merupakan alumnus Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi angkatan 2016 yang lahir pada 15 juni 1995. Aktif sebagai Interactive Medical Advisor di www.curhatbidan.com. Bagi saya menjadi seorang bidan adalah pekerjaan mulia yang memberikan pelayanan dengan hati nurani. Bidan berperan dalam luang lingkup kesehatan dasar masyarakat. Mulai dari bayi, remaja, pasangan usia subur sampai lanjut usia. Saya berharap mampu memberikan pelayanan kesehatan keluarga anda.

    Untuk konsultasi via WhatsApp klik disini :

  • Bagikan Artikel :

    Terkahir Di Edit : July 24, 2018

    Pertanyaan Pengunjung :

    Cara mengetahui hamil atau nggak

  • Oleh : Lina Widiyastuti
  • 3 minggu, 2 hari yang lalu

    Bu saya mau nanya saya kan udah telat mens sehari terus saya cek pake tespek tapi hasilnya negatif tapi perut saya rasanya kenceng kadang ada rasa mual dan pusing tapi mulanya nggak muntah dok itu kira” kenapa yah?

  • Oleh : Lina Widiyastuti
  • BB anak tidak naik2

  • Oleh : Nenk Marsya
  • 3 tahun, 6 bulan yang lalu

    Selamat pagi, Bu.. Saya mau bertanya beberapa hal mengenai anak sy yg BBnya tdk pernah lagi naik. Sekarang anak usia 2th…
    1. Apakah anak sy kena TB/kurang gizi? Krn adik sy ada yg riwayat TB. Ortu sy juga batuk tidak kunjung sembuh. Anak kakak ipar sy juga abis pengobatan TB.
    2. Apa sebenarnya faktor pemicu TB dan cara mengatasinya?
    3. Apakah TB menular ke ibu hamil? Dan bagaimana ciri serta mengatasinya?
    4. Sebaiknya anak dibawa ke ahli gizi atau ke dokter anak?
    Terima kasih

    Tentang Masa Subur dan Kehamilan

  • Oleh : Latifa Arisanny
  • 5 bulan yang lalu

    Assalamualaikum dokter, saya Nanda. Saya nikah baru 1thn, dan memang selama ini saya dan suami menunda punya anak ( mau pacaran dulu )

    Mau nanya dokter, saya kan telat menstruasi nih baru bulan ini. Seharusnya saya mens di tanggal 8 tapi belum haid juga, dan perkiraan di Aplikasi Flo tanggalan haid saya itu masuk di tgl 12 utk Haid nya.

    Dan saya pagi ini berhubungan intim, lalu suami menumpahkan sperma di dalam hanya sedikit, apa kah itu bisa kemungkinan hamil di tgl tua yg seperti ini subur/tidak subur ibu dokter?

    Dan untuk lebih jelas lagi kapan saya bisa testpeck ibu dokter?

  • Oleh : Latifa Arisanny
  • Kehamilan

  • Oleh : Atik Tika
  • 1 tahun, 7 bulan yang lalu

    Assalamualaikum, maaf bu dokter saya mewakili teman saya mau bertanya, teman saya kan sudah tidak heid dari semenjak bulan mei 2019 setelah bulan juni akhir ternyata belum haid juga katanya, lalau pas tanggal 25 juni akhir teman saya melakukan test pack dan hasilnya negatif, tapi pas masuk bulan juli awal juga belum haid dan pas tanggal 9 juli di cek lagi hasilnya fositif, di tes lagi tanggal 12 juli juga masih fositif, dan di coba di tes lagi tanggal 23 juli juga masih fositif, tapi yg membuat anehnya kata teman saya dia sama sekalai tidak merasakan mual muntah atau tanda tanda hamil seperti biasanya yaitu perut buncit, sering pipis dll.hanya yg dirasakan yaitu tidak haid seperti biasanya saja. Yg mau di tanyakan jd sebenarnya teman saya itu sedang hamil atau tidak bu dokter, dan solusi nya apa untuk memastikan teman saya hamil atau tidak itu soalnya teman saya tidak mau di cek langsung ke dokter atau bidan dia orangnya penakut dokter. Terima kasih sekian pertanyaan saya mohon di jawab ya bu dokter.

    Kesulitan hamil saat sdah kb

  • Oleh : Ulfha Arham
  • 1 tahun, 8 bulan yang lalu

    Dok sya ingin bertnya

    Tanya Bidan