Waspadai Terjadinya Ruptured Placenta Pada Ibu Hamil

Share Dan Tag Teman Kamu Di :

  • Curhat Bidan – Banyak Bunda yang bertanya apa itu Ruptured Placenta atau Plasenta Lepas? Sebelumnya Bunda pasti mengetahui tentang plansenta, plasenta merupakan organ penghubung bagi Bunda dan Janin. Melalui plasenta janin tidak hanya akan mendapatkan nutrisi, tetapi juga akan mendapatkan darah dan oksigen. Pada normalnya plasenta akan terlepas setelah bayi dilahirkan.

    Pada Ruptured plansenta atau yang dikenal dengan istilah Solution placenta/Abruption Plasenta, plasenta sudah terlepas pada saat bayi masih dalam rahim. Plasenta yang terlepas dari dinding rahim bisa hanya sebagian, tetapi bisa juga seluruhnya. Apabila plasente terlepas seluruhnnya, maka aliran darah dari ibu ke bayi akan otomatis terhenti, begitu juga dengan aliran makanan dan oksigen(O2). Dikarenakan tidak mendapatkan O2, janin pun akan mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen dan kehidupannya akan terhenti.

    Untuk kondisi plasenta terlepas sebagian, pada umumnya akan terjadi pendarahan dalam rahim. Jika darah yang keluar cukup banyak, darah bisa masuk ke sela-sela otot rahim dan akan menyebabkan nyeri yang sangat behat dan perut akan tegang. Pada usaha menutup luka pendarahan, faktor pembekuan darah bisa terlalu banyak terpakai sehingga mengakibatkan perdarahan keluar pada tempat lain yaitu bisa pada hidung, mata, telinga dan bisa juga pada pori-pori tubuh. Hal ini akan mengakibatkan anemia, hipotensi sampai kegagalan multiorgan. Kondisi seperti ini haruslah segera mendapatkan penanganan medis.

    Siapakah yang Beresiko Mengalami Ruptured Placenta ?

    Pada dasarnya, Ruptured Placenta atau plasenta lepas dapat dialami oleh semua Bunda yang sedang Hamil, tetapi ada yang lebih beresiko mengalaminya, diantaranya sebagai berikut :

    1. Pernah mengalami benturan pada kandungan
    2. Pernah melakukan pemutaran posisi janin
    3. Bunda yang memiliki tali pusat yang pendek
    4. Bunda dengan Hipertensi
    5. Bunda dengan Preeklamsia
    6. Bunda dengan Eklamsia
    7. Air ketuban pecah sebelum waktunya
    8. Bunda dengan Diabeter Melitus
    9. Pengecilan tiba-tiba pada hidramnion/kehamilan kembar.

    Perbedaan Ruptured Placenta dengan Placenta Previa

    Apabila plasenta berimplantasi pada tempat yang salah, misalkan pada jalan lahir, maka kondisi ini dinamakan Placenta Previa bukan Ruptured Placenta. Jika plasenta berimplantasi pada tempat yang normal dan terlepas pada saat usia kehamilan minimal 22 minggu / berat bayi 500 gram, maka ini disebut dengan Ruptured Placenta.

    Hal yang Harus Dilakukan Apabila Terjadi Ruptured Placenta atau Terjadinya Plasenta Lepas

    Apabila Bunda sedang hamil menunjukan gejala Ruptured Placenta / plasenta lepas, peran keluarga sangatlah penting, maka hal yang harus dilakukan adalah :

    1. Jika terjadi pada kehamilan diatas 5 bulan, dan Bunda mengeluh nyeri pada perut, tegang diserta dengan perdarahan sedikit pada vagina, dan mempunyai riwayat tekanan darah tinggi, maka pada saat itu pun Bunda harus segera dibawa ke RS terdekat yang memiliki fasilitas operasi.
    2. Sampaikanlah kondisi Bunda yang sedang hamil kepada tim medis dengan detail. Dokter akan mengambil diagnosisi dengan cara anamnesia, USG dan pemeriksaan fisik. Hal ini sangatlah penting dilakukan karena ada kondisi lain yang menyerupai Ruptured Placenta, seperti plasenta previa dan vasa previa yang pecah.
    3. Setelah diagnosis Ruptured Placenta, penanganan yang akan dilakukan oleh dojter bergantung pada berat ringannya Ruptured Placenta dan usia kehamilan pada saat itu.

    Tindakan Medis Ruptured Placenta Berat :

    • Tranfusi darah
    • Mengatasi syok dengan memberikan cairan infus
    • Menghentikan Ruptured Placenta dengan melahirkan bayi dan plasenta secepatnya melalui bedah sesar
    • Apabila uterus sudah membiru dan perdarahan dari uterus tidak dapat dihentikan, mungkin akan dilakukan pengangkatan rahim.
    Tindakan Medis Ruptured Placenta Sedang :

    • Apabila kehamilan aterm/cukup bulan, akan dilakukan pengakhian kehamilan segera.
    • Apabila kehamilan belum cukup bulan dan Ruptured Placenta berkembang ke arah yang lebih berat, kehamilan haruslah segera diakhiri untuk menyelamatkan Bunda dan bayi.
    • Apabila Ruptured Placenta tidak bertambah berat, kehamilan dapan diteruskan dengan mpemberian obat pematang paru untuk janin dan mengatasi kelainan yang tibul seperti hipertensi, anemia dan mencegah terjadinya komplikasi.
    • Apabila terjadi gawat janin, maka kehamilan harus segera diakhiri.

    Gejala terjadinya Ruptured Placenta

    Berikut ini gejala terjadinya Ruptured Placenta, diantaranya :

    1. Pada Ruptured Placenta ringan, sering kali tidak mengalami keluhan. Biasanya baru terdeteksi setelah bayi lahir. Pada saat plasenta lahir ditemukan adanya stolsel atau gumpalan darah mati pada bagian dalam plasenta ataupun bisa ditemukan pada saat pemeriksaan dengan USG.
    2. Pada Ruptured Placenta sedang, perdarahan sekitar 200-500cc, dan biasanya akan ada keluhan nyeri perut yang menetap, perut mengalami nyeri tekan dan kaku, terkadang terjadi perdarahan sedikit dari vagina.
    3. Pada Ruptured Placenta berat, pasenta yang terlepas lebih dari setengah dan perdarahan sekitar 100cc, perut terasa sakit dan tegang, Bunda yang sedang hamil mengalami syok, dan terkadang terjadi gangguan multiorgan. Pada umumnya janin sudah meninggal di dalan rahim.
    Penanganan Ruptured Placenta atau Plasenta lepas tergantung pada beberapa hal seperti apakah due date sudah dekat, seberapa parah pendarahan, serta kondisi janin apakah sudah memasuki gawat janin atau tidak. Operasi caesar merupakan tindakan terbaik untuk menangani plasenta lepas, walaupun artinya bayi harus lahir prematur.

    About : Citra Dewi Amd. Keb

    Citra Dewi Amd. Keb

    Bidan Citra Dewi Am.Keb merupakan alumnus Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi angkatan 2016 yang lahir pada 15 juni 1995. Aktif sebagai Interactive Medical Advisor di www.curhatbidan.com. Bagi saya menjadi seorang bidan adalah pekerjaan mulia yang memberikan pelayanan dengan hati nurani. Bidan berperan dalam luang lingkup kesehatan dasar masyarakat. Mulai dari bayi, remaja, pasangan usia subur sampai lanjut usia. Saya berharap mampu memberikan pelayanan kesehatan keluarga anda.

    Untuk konsultasi via WhatsApp klik disini :

  • Citra Dewi Amd.Keb - November 9, 2016
    Diskusi Dari:
    ALif AL Maun Yoyox

    Assalamualaikum Bu Bidan, Melakukan hubungan pasangan suami istri sebelum masa menstruasi itu apakah termasuk pada masa subur ? Tapi kalau setelah berhubungan intim lalu terdapat darah haid bagaimana, apa kemungkinan bulan besoknya saya bisa hamil atau harus melakan hubungan pasangan suami istri lagi bu ? Terima kasih sebelumnya.

    Perlu Jawaban
    Diskusi Dari:
    Amel Fayunl

    Siang Bu..
    Saya sekarang lagi hamil usia kandungan saya sudah memasuki 24 minggu, tapi akhir-akhir ini daerah vagina dan selangkangan saya sering sakit, terus mau pindah posisi tidur rasa sakitnya itu semakin terasa, apakah itu berbahaya untuk saya dan janin?

    Dijawab Oleh : Amel Fayunl
    Diskusi Dari:
    Iis ismayanti

    Selamat pagi bu bidan, saya mau bertanya apakah ada pantangan makanan untuk anak yang saat ini baru sunat takutnya jika makan sembarangan akan berimbas pada luka sunat yang masih basah. Mohon penjelasannya trims.

    Dijawab Oleh : Iis ismayanti
    Diskusi Dari:
    alberta6265

    Siang bu bidan. Saya mau tanya, bayi saya usia 6 bulan apa sudah boleh dipijat ? Bagaimana langkah-langkah memijat bayi yang benar ?

    Dijawab Oleh : alberta6265
    Diskusi Dari:
    Sherly davies

    Bu Bidan nama saya Adinda Laras dan sekarang ini saya sedang hamil untuk yang pertama kali jadi perasaan antara khawatir, takut dan cemas dan senang bercampur. Apa saya perlu melakukan tes torch bu ? Tapi saya tidak memiliki riwayat pelihari kucing dan kehamilan saya juga baik – baik saja tapi tetap saja saya merasa takut. Menurut bu bidan saya harus bagaimana ?

    Dijawab Oleh : Sherly davies