Ilegalnya Ibu Pengganti dari Hasil Bayi Tabung di Indonesia

Share Dan Tag Teman Kamu Di :


  • Diantara banyaknya aplikasi perkembangan teknologi reproduksi, bayi tabung (in virto fertilization) melalui ibu pengganti memiliki jangkauan konsekuensi yang begitu jauh sehingga menimbulkan banyak pertentangan etika dan hukum. Ibu pengganti digunakan pada pasangan yang memiliki masalah pada reproduksinya (isteri tidak subur) dan ibu pengganti harus menandatangani kontrak oleh kedua belah pihak dan setuju untuk diinseminasi secara artifisial bersedia disewa rahimnya, dengan suatu perjanjian untuk mengandung benih dari pasangan suami istri, melahirkan, dan menyerahkan kembali bayinya dengan imbalan sejumlah materi kepada pasangan suami istri yang tidak bisa mempunyai keturunan.

    Saat melahirkan ibu pengganti melepaskan semua hak orang tua dan mentransfer hak asuh fisik anak tersebut ke pasangan komisioning. Secara singkat dapat dikatakan Surogasi merupakan persetujuan dari seorang wanita untuk menjalani kehamilan bagi orang lain.

    Faktor-Faktor Penyebab Pasangan Suami Istri Melakukan Surogasi

    1. Pihak istri mengalami penyakit serius dan tidak mungkin mengandung selama sembilan bulan

    2. Sel telur sudah tidak bisa diproduksi lagi oleh Istri

    3. Sperma suami bermasalah, tidak berkualitas atau jumlahnya sangat sedikit

    Terdapat 2 Jenis utama Surogasi

    a) Surogasi Gestasional (Gestational Surrogate)

    Pada Surogasi jenis ini janin yang dikandung oleh Surrogate Mother berasal dari sel telur Istri dan sel sperma suami. Hasil pembuahan atau embrio yang ditransfer ke dalam rahim Surrogate Mother dihasilkan dari proses Fertilisasi In Vitro atau bayi tabung. Anak yang dilahirkan kelak tidak memiliki keterkaitan secara genetik dengan Surrogate Mother.

    b) Surogasi Tradisional (Traditional Surrogate)

    Pada surogasi jenis ini, surrogate mother biasanya memiliki andil untuk mendonorkan sel telurnya. Sel telur surrogate mother nantinya dibuahi oleh sel sperma suami dari pasangan tersebut. Anak yang dilahirkan kelak memiliki keterkaitan secara genetik dengan Surrogate Mother. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proses fertilisasi yang terjadi dalam Surogasi pada dasarnya sama dengan pembuahan In Vitro atau bayi tabung (dilakukan di luar rahim ibu).

    Surogasi Melanggar Hukum

    Dalam hukum Indonesia, praktek ibu pengganti secara implisit tidak diperbolehkan. Dalam pasal 127 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) diatur bahwa upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan :

    A. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal

    B. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;

    C. Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.

    Latar Belakang Terjadinya Sewa Rahim

    Sewa rahim biasanya dilatarbelakangi oleh beberapa sebab, di antaranya :

    A. Seorang perempuan atau seorang istri tidak mempunyai harapan untuk mengandung secara normal karena memiliki penyakit atau kecacatan yang dapat menghalanginya dari mengandung dan melahirkan anak.

    B. Seorang perempuan tidak memiliki rahim akibat tindakan operasi pembedahanrahim.

    C. Perempuan tersebut ingin memiliki anak tetapi tidak mau memikul beban kehamilan, melahirkan dan menyusukan anak dan ingin menjaga kecantikan tubuh badannya.

    D. Perempuan yang ingin memiliki anak tetapi masa haidnya telah putus haid (menopause).

    E. Perempuan yang menjadikan rahimnya sebagai alat komoditi dalam mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan ekonominya.

    Risiko pada Anak dari Surogasi

    Dalam prakteknya, sewa rahim atau ibu pengganti membuka peluang lebar adanya anak yang dilahirkan di luar nikah. Seorang gadis atau janda yang bersedia untuk melahirkan tanpa nikah dan hanya disewa rahimnya saja, dapat membawa dampak buruk serta penderitaan terhadap masa depan anak, di antaranya adalah :

    A. Anak terlahir dengan status anak di luar nikah.

    B. Anak kehilangan hak waris orang tua kandungnya.

    C. Anak mendapat stigma buruk di masyarakat.

    D. Anak tersebut dapat disangkal oleh orang tua kandungnya maupun oleh orang tua titipan.

    Kasus Surogasi Yang Kerap Terjadi

    A. Pasangan AB menitipkan embrio, yang merupakan hasil pembuahan antara sel telur A (Istri) yang dibuahi oleh sel sperma orang lain (bukan suaminya), atau sebaliknya sel sperma B (suami) membuahi sel telur wanita asing (bukan istrinya). Embrio tersebut kemudian dititipkan ke dalam rahim wanita lain (C)

    B. Kasus yang lebih ekstrim, pasangan AB mendapatkan anak secara surogasi dari embrio hasil pembuahan sel telur seorang wanita asing dan
    sel sperma seorang pria asing. Embrio “orang asing itu” kemudian dititipkan kepada wanita C, dan setelah lahir diakui sebagai anak pasangan AB.

    Dari penjelasan tersebut dapat terlihat dengan jelas mengapa surogasi merupakan hal yang masih kontroversial (meskipun ada beberapa negara yang telah melegalkan proses ini).  Di Indonesia sendiri, surogasi merupakan praktik yang dilarang keras dilakukan. Hal ini berdasar pada fakta bahwa ada proses memasukkan hal paling pribadi dari seorang pria, yaitu sperma suami ke dalam kandungan wanita lain yang bukan istri sahnya.

    About : Citra Dewi Amd. Keb

    Citra Dewi Amd. Keb

    Bidan Citra Dewi Am.Keb merupakan alumnus Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi angkatan 2016 yang lahir pada 15 juni 1995. Aktif sebagai Interactive Medical Advisor di www.curhatbidan.com. Bagi saya menjadi seorang bidan adalah pekerjaan mulia yang memberikan pelayanan dengan hati nurani. Bidan berperan dalam luang lingkup kesehatan dasar masyarakat. Mulai dari bayi, remaja, pasangan usia subur sampai lanjut usia. Saya berharap mampu memberikan pelayanan kesehatan keluarga anda.

    Untuk konsultasi via WhatsApp klik disini :

  • Citra Dewi Amd.Keb - July 23, 2018
    Diskusi Dari:
    githa

    Saya hamil 8 minggu tp sblmnya tdk masalah tp saya ada flek dan dan darah saat pup. Rasanya kaya haid

    Dijawab Oleh : githa
    Diskusi Dari:
    Bunga Handayani

    Siang Dok, Saya wanita berusia 22 Tahun mau bertanya tentang flek yang keluar seperti menstrulasi. Saat ini, saya sering kali haid yang tidak teratur yang sering kali mundur dan maju setidaknya 6 bahkan 10 hari dari tanggal bulan kemarin. Saat ini tubuh saya sering merasakan gejala gejala akan datangnya haid, namun tidak kunjung datang juga bahkan hanya keluar flek hitam sedikit saat cebok setelah buang air kecil. Sampai saat ini saya mersakan nyeri di bagian punggung dan kram dibagian perut seperti haid namun tak kunjung juga. Apakah ini kondisi yang normal dirasakan?

    Dijawab Oleh : Bunga Handayani
    Diskusi Dari:
    Nelly Tampubolon

    Assalamualaikum bu bidan …

    Nama saya Disti Hanifa, saya sudah menikah sekitar 4 bulan ini dan kemarin saya mengaja menggunakan KB jenis suntik 1 bulan sekali untuk menunda kehamilan dan sudah 2 kali ini saya menggunakan KB suntik bu. Sekarang saya mau program hamil dan saya mau bertanya, untuk kembali mendapatkan kesuburan setelah KB berapa bulan bu ? Terus makanan apa aja yang harus saja hindari supaya program hamil saya lancar.

    Terima kasih.

    Dijawab Oleh : Nelly Tampubolon
    Diskusi Dari:
    samanthabarrient

    Selamat sore bu bidan, , kenapa ya semenjak saya menjalani kehamilan saya sering merasakan lapar. Bawaannya lapar terus , saya takut kalau makan terus bayinya kelebihan berat badan.

    Dijawab Oleh : samanthabarrient
    Diskusi Dari:
    Lutfi Maharani

    Selama pagi Dok. Saya mau bertanya, kan akhir akhir ini anak saya sering kali merasakan batuk di mana saat batuk ini pasti dia merasakan nafas yang tak menentu dan bahkan sering kali terlihat seperti yang susah sekali untuk bernafas. Yang saya mau tanyakan, kira kira ini jenis masalah kesehatan apa? Dan bagian mana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

    Dijawab Oleh : Lutfi Maharani