×

Bolehkah Menambahkan Gula Dan Garam Pada MPASI?

Bagikan Artikel :

Bolehkah Menambahkan Gula Dan Garam Pada MPASI?

Si Kecil sudah berusia 6 bulan? Tapi masih bingung untuk memberikan MPASI? Bagaimana teksturnya dan pakai perasa atau tidak ya? nah kali ini Bidan Citra bakalan share mengenai penggunaan garam dan gula pada MPASI.

Perlu diketahui bahwa Si Kecil walau masih bayi dia sudah bisa merasakan rasa makanan, lo. Jika sudah seperti ini, orangtua biasanya mulai mencoba memberikan sedikit perasa dalam makanan Si Kecil, diberi gula dan garam. Tujuannya supaya gurih alias enak di lidah. Tapi bolehkan usia bayi 6 bulan diberikan gula dan garam dalam MPASI-nya? Apakah tidak akan menyebabkan diare, gangguan fungsi ginjal, terganggunya, dan apakah tidak akan mengundangg penyakit degenaratif seperti diabetes, hipertensi, gagal ginjal, dan lain sebagainya?

Related Posts :

    Indera Pengecap Sudah Mulai Aktif Diusia 6 Bulan

    Indera pengecap bayi saat usia 6 bulan sudah mulai aktif. Otomatis Si Kecil bisa mendeteksi rasa, meski belum begitu baik. Dengan begitu ia sudah bisa merasakan makanan yang dimakannya.

    Makanan dapat dikatakan enak jika mencapai rasa ke-4 yaitu gurih, percampuran antara rasa manis dan asin. Rasa manis pada makanan umumnya akan memberikan kesan enak, sedangkan rasa asin akan menimbulkan sifat adiktif atau ketagihan.

    Jika Si Kecil sudah mogok makan karena makannya tidak enak, orangtua biasanya mulai mencoba memberikan sedikit perasa dalam makanan Si Kecil.

    Bolehkah Diberikan Tambahan Perasa Seperti Gula Dan Garam?

    Menurut World Health Organization (WHO), pemberian gula dan garam tidak dianjurkan untuk MPASI. Karena gula merupakan sumber energi yang tidak memiliki kualitas nutrisi, sehingga tidak dianjurkan diberikan sebagai bumbu untuk MPASI. Selain itu, gula dapat merusak gigi anak dan menyebabkan obesitas. Sedangkan garam akan menyebabkan hipertensi saat dewasa. Fungsi ginjal bayi yang belum sempurna akan bekerja ekstra mencerna sodium dalam garam. WHO juga mengatakan bayi tidak boleh terpapar oleh makanan tinggi sodium.

    Gula dan garam sebagai perasa MPASI hanya boleh digunakan dengan pengawasan medis, mengingat risikonya lebih besar jika bayi terpapar gula dan garam berlebih. Artinya bayi belum membutuhkan banyak kandungan sodium dalam garam.

    Perasa Garam Alami Untuk Si Kecil

    Jika ingin memenuhi kebutuhan sodium untuk Si Kecil, sebenarnya Anda bisa menambahkan dari sumber alami, bukan hanya dari garam saja. Karena bagaimanapun sebetulnya sodium dibutuhkan, tapi sumbernya bukan hanya dari garam. Hampir semua makanan mengandung sodium. Misalnya dari daging, kerang, susu, keju, wortel, seledri, brokoli, kacang-kacangan atau kaldu ayam murni, bisa sebagai bumbu penyedap makanan.

    Jadi jika ingin Si Kecil tetap tercukupi kebutuhan sodiumnya, alternatif selain dengan garam bisa dengan olahan sumber alami tersebut. Atau bahkan akan lebih baik jika MPASI yang dibuat ditambahkan ASI, niscaya akan lebih enak bagi bayi.

    Hal yang perlu diketahui Mengenai Pemberian Garam Pada Si Kecil

    1. Kebutuhan garam pada bayi kurang dari 1 gram per hari. Sementara di dalam ASI ataupun susu formula, terdapat 0.4 gram kandungan sodium yang sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya
    2. Selama 6 bulan, bayi hanya menerima 1 rasa yaitu ASI, jenis menu apapun yang Anda berikan padanya akan menjadi rasa yang baru baginya
    3. Terlalu banyak kadar garam dalam tubuh bayi bisa menyebabkan kerja ginjal menjadi berat. Hal ini bisa meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit ginjal di saat dewasa

    Gula untuk MPASI Si Kecil

    Hingga saat ini pemberian gula garam tidak dianjurkan. Tapi ada juga yang membolehkan selama tidak berlebih. Tujuannya supaya anak bisa dan atau mau makan, tanpa menimbulkan dampak negatif bagi anak. Karena biasanya makanan yang enak akan dimakan oleh bayi dengan lahap. Nah agar lebih jelas seberapa banyak takaran pemberian gula terhadap MPASI simak di bawah ya!

    • Bayi usia 6-8 bulan hanya boleh mendapatkan ½ – 1 sdt gula per hari
    • Bayi usia 8-12 bulan hanya boleh mendapatkan ½ – 1 ½ sdt gula per hari

    Aturan tersebut berlaku untuk gula tambahan (gula pasir), bukan gula alami yang terdapat dalam makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti buah-buahan dan susu rendah lemak. Meski pada dasarnya anak-anak membutuhkan gula sebagai energi, tapi berikanlah dalam jumlah yang sesuai rekomendasi. Ini penting untuk mencegah obesitas dan kerusakan gigi.

    Jadi, kesimpulannya Anda diperbolehkan untuk memberikan garam dan gula ke dalam MPASI si Kecil, tetapi dalam jumlah yang direkomendasikan, atau kalau saran dr. Dyah, kalau pemberiannya membuat anak mau makan. Berikan sesedikit mungkin pada anak di bawah 12 bulan karena berkaitan dengan kesehatan ginjalnya. Setelah melewati usia 1 tahun, pemberian gula dan garam lebih bebas, tetapi tetap harus dibatasi.

    Sebagai tips untuk menghindari aksi “tutup mulut” si Kecil saat diberikan MPASI, sebaiknya kenalkan ia MPASI berbahan sayur-sayuran terlebih dulu, baru buah-buahan. Sebab, sayur memiliki cita rasa yang lebih hambar daripada buah. Jika bayi mengenal rasa manis dari buah terlebih dulu, tentu ia akan menolak rasa hambar dari sayuran. Hal ini juga berpengaruh terhadap pemberian garam dan gula pada MPASI sayuran. Supaya garam dan gula tidak terlalu banyak diberikan ke dalam MPASI tersebut untuk meningkatkan cita rasa, sebaiknya kenalkan buah setelah Anda mengenalkannya rasa sayuran terlebih dulu.

    Hal Yang Perlu Diingat Untuk Pemberian Gula

    1. Gula dibuat dengan melalui berbagai tahap penyulingan di pabrik dan menggunakan bahan kimia yang bisa berbahaya untuk bayi
    2. Konsumsi gula di usia dini bisa menyebabkan kerusakan pada gigi
    3. Kadar gula yang tinggi di dalam darah bisa menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh
    4. Penelitian menunjukkan, anak yang sering mengonsumsi gula lebih mudah terkena diabetes dan obesitas kelak.

    About : Citra Dewi Amd. Keb

    Citra Dewi Amd. Keb

    Bidan Citra Dewi Am.Keb merupakan alumnus Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi angkatan 2016 yang lahir pada 15 juni 1995. Aktif sebagai Interactive Medical Advisor di www.curhatbidan.com. Bagi saya menjadi seorang bidan adalah pekerjaan mulia yang memberikan pelayanan dengan hati nurani. Bidan berperan dalam luang lingkup kesehatan dasar masyarakat. Mulai dari bayi, remaja, pasangan usia subur sampai lanjut usia. Saya berharap mampu memberikan pelayanan kesehatan keluarga anda.

    Untuk konsultasi via WhatsApp klik disini :

  • Bagikan Artikel :

    Terkahir Di Edit : May 5, 2020

    Pertanyaan Pengunjung :

    Ibu hamil

  • Oleh : Feri Hariadi
  • 2 bulan, 2 minggu yang lalu

    Dok…saya hamil 6 bulan sering nyeri kemaluan ada bengkaknya juga.kata bidan saya di desa saya juga ada varises bagiman a cara mengatasinya apakah saya juga bisa lahir normal

  • Oleh : Feri Hariadi
  • Organ kewanitaan

  • Oleh : Asmi Ruswita
  • 1 tahun, 7 bulan yang lalu

    Dok saya mau tanya, keluhan saya yaitu keputihan tapi bening dan sediki sedikit ingin pipis seperti anyang anyangan. Kalau buang air kecil sedikit panas jika setelah selesae buang air kecil. Apakah itu normal atau bagaimana dok solnya saya baru pertma kali mengalami seperti ini.
    Tlong jawabanya dok terimakasi

    Kehamilan anak ke 2 setelah usia 40 tahun

  • Oleh : Fatima Nur Laina
  • 6 bulan, 1 minggu yang lalu

    Perkenalkan saya fatima, saya skrg usia 40 tahun, dan saat ini merencanakan kehamilan ke 2 dengan pernikanan yang ke 2. Saat ini setelah pernikan ke 7 tahun saya belum hamil lagi. Mohon bantu saran ya

  • Oleh : Fatima Nur Laina
  • Apakah kehamilan saya normal?

  • Oleh : Ribka Veronika Tatengkeng
  • 5 tahun, 2 bulan yang lalu

    Selamat pagi Bu Bidan,

    Saya aneu, 25 tahun. Saat ini saya sedang hamil usia kandungan 2 bulan, tapi tidak ada tanda-tanda seperti payudara sakit dan membengkak, mual-mual di pagi hari seperti contoh tanda kehamilan umumnya. Apakah kehamilan saya normal?

    Apakah saya hamil?

  • Oleh : uye (wanita)
  • 5 tahun, 4 bulan yang lalu

    selamat pagi bu bidan. Saya mau tanya, saya baru saja menikah bulan maret kemarin. Dan setelah menikah hingga sekarang saya hanya mengalami satu kali datang bulan yaitu pada tanggal 15 april lalu. kemudian saya mencoba tes menggunakan tespack. Namun hasilnya negatif. Saya dan suami masih penasaran. Hingga seminggu kemudian kamipun tes ulang menggunakan tespeck, namun hasilnya masih negatif. apa yang terjadi pada saya bu bidan? apa saya hamil? tetapi mengapa hasil di tespeck negetif? mohon jawabannya bu bidan..

    Tanya Bidan