×

Prilaku Anak Yang Tidak Boleh Diabaikan

Bagikan Artikel :

Prilaku Anak Yang Tidak Boleh Diabaikan

Setiap anak punya sisi positif dan sisi negatifnya. Tapi ada beberapa sisi negative yang tidak bisa diabaikan orangtua. Kalau kita abaikan perilaku negative ini akan menjadi habit dan kebiasaan sehingga akan lebih sulit lagi untuk mengubah kebiasaan itu.

Related Posts :

    Memang membenarkan karakter negative anak hal yang tidak mudah. Ada saatnya di mana mereka memberontak ketika ditegur dan memiliki perilaku yang berpotensi mengganggu, bahkan membuat kita panik. Apa saja nih perilakku negative anak yang tidak boleh diabaikan?

    1. Melebih-lebihkan cerita atau berbohong
      Anak-anak bisa saja mengungkapkan cerita yang dilebih-lebihkan untuk menjelaskan sesuatu yang mereka alami. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Hal tersebut biasanya dilakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau pergi dari sesuatu yang mereka tidak ingin, atau untuk menghindari hukuman. Anak-anak juga berbohong sebagai cara untuk mengeksplorasi sebab dan akibat. Mereka mungkin penasaran untuk melihat apa yang terjadi ketika memutar cerita. Menurut seorang manajer layanan di Kinderhey Centers, Tauny Banta, penting bagi orangtua bertindak dan membantu anak-anak mengembangkan kebiasaan untuk berkata jujur. Selain tidak pantas secara sosial, berbohong dapat membuat anak-anak tumbuh tanpa memahami makna dari konsekuensi dan hal tersebut menempatkan mereka dalam bahaya. Banta menyarankan kita supaya memahami motivasi anak-anak. Kita juga harus memberikan pengertian, bahwa kebohongan akan memiliki dampak yang harus diterima.
    2. Menginterupsi
      Banyak orangtua yang membiarkan anak menginterupsi karena rasa sayang atau merasa kasihan. Tetapi, kebiasaan memotong pembicaraan dapat berdampak negatif. Banta mengatakan, orangtua perlu memberitahu anak bahwa interupsi adalah sesuatu yang mengganggu dan mengajarkan bagaimana caranya untuk menunggu. Berikanlah contoh saat melakukan percakapan dengan anak. Misalnya, jika anak sedang menceritakan kisah yang bertele-tele, usahakan jangan menyelanya. Tetapi, jika kita sudah terlanjur melakukannya, segeralah meminta maaf. Banta juga menyarankan kita untuk mengajarkan anak-anak bagaimana dengan hormat menginterupsi pembicaraan seseorang dengan mengatakan permisi. Jangan lupa untuk memberi pujian ketika kita melihat mereka berlatih keterampilan baru
    3. Perhatian yang berbeda
      Dalam keluarga dengan lebih dari satu anak, dinamika anak yang keras kepala dengan anak yang patuh dapat muncul. Anak-anak yang keras kepala sering kali mendapatkan perhatian paling besar berdasarkan sifat perilaku mereka. Sementara itu, anak yang patuh adalah individu yang diharapkan untuk selalu mengikuti aturan di dalam keluarga. Ketika dinamika ini hadir, Banta mengatakan anak yang patuh mungkin juga dapat membuat perselisihan dengan saudaranya yang keras kepala. “Anak yang keras kepala memiliki respons besar terhadap hal ini. Orangtua sering mengatasi respons anak yang keras kepala dan membuat anak yang patuh luput dari perhatian,” katanya. “Misalnya, anak yang patuh mengambil mainan anak yang keras kepala. Lalu, anak yang keras kepala tersebut menanggapinya dengan memukul anak yang patuh,” sambung dia. Biasanya, orangtua memarahi anak yang keras kepala dan memaksanya untuk meminta maaf, tapi lupa mengatasi anak patuh yang telah merampas mainan. Menurut Banta, akar penyebabnya di sini adalah perhatian. Jadi, selalu pastikan semua anak mendapatkan perhatian yang sama. Mengatasi perilaku ini lebih awal tidak hanya akan mengurangi persaingan saudara kandung, tetapi juga mengajarkan untuk tidak membuat perselisihan dalam mendapatkan perhatian.
    4. Ketidaksabaran
      Pada anak-anak kecil, ketidaksabaran mungkin dipandang sebagai hal yang wajar. Tetapi, dokter anak Harvey Karp, MD, yang merupakan pendiri Happiest Baby mengatakan, itu tidak berarti kita harus mengabaikannya. Ketidaksabaran dapat tumbuh menjadi perilaku impulsif, kurangnya disiplin diri, dan masalah sosial seperti menolak untuk berbagi di taman bermain. Karp merekomendasikan, agar orangtua mempraktikkan “pelatihan kesabaran” untuk menanggapi tuntutan anak, baru kemudian memberikan yang diinginkan. Sebagai contoh, anak kita yang berusia dua tahun meminta camilan ketika kita sedang membuat makan malam. Alih-alih langsung memberikan camilan, berhentilah sejenak dan katakan kepadanya untuk menunggu. Selanjutnya, berpalinglah dan berpura-pura sibuk dengan sesuatu yang lain. Akhirnya, berikan camilan dan puji dia karena sudah mau menunggu. “Menunggu sedikit dan kemudian memberikan apa yang diinginkan oleh anak-anak mengajarkan mereka, bahwa menunggu tidaklah sulit,” terangnya. “Ditambah lagi, hal itu mengajarkan anak-anak supaya dapat mengandalkan ibu atau ayah untuk menepati janjinya,” lanjut dia.
    5. Memukul atau menggigit Anak-anak hampir tidak memiliki kontrol impuls, sehingga mereka mudah sekali untuk memukul atau menggigit anak lain. Ini adalah contoh yang tidak baik karena membiarkan seorang anak tumbuh dengan sesuatu yang bisa menjadi masalah yang jauh lebih besar di masa mendatang. Tentu saja, mengabaikan perilaku anak-anak yang suka memukul atau menggigit dapat memiliki konsekuensi fisik negatif dan kita harus menghentikannya segera. Seorang pakar perkembangan anak, Laura Froyen, PhD, mengungkapkan, jika kita mengabaikan perilaku ini, maka anak-anak bisa melukai orang lain dan menciptakan sifat agresi. Perlu diingat, otak anak-anak kecil sedang dibangun dalam setiap pengalaman. Jadi, setiap kali mereka melakukan sesuatu yang berbahaya tanpa konsekuensi atau intervensi orang tua, mereka belajar bahwa perilaku itu baik-baik saja. “Kita ingin mencegah atau memblokir sebanyak yang kita bisa untuk kontrol impuls ke otak mereka,” kata Froyen. Bicarakan dengan anak-anak kita untuk tidak menggunakan tangan atau kaki dalam mengekspresikan kemarahan.
    6. Mengabaikan orangtua
      Pernah memanggil nama anak beberapa kali dan mereka sama sekali tidak peduli? Menurut Froyen, ini berarti anak-anak mengabaikan kita. Tetapi, hal itu mungkin disebabkan karena produk dari otak mereka yang sedang berkembang. Anak-anak kecil kadang belum bisa memahami apa yang harus dilakukan karena asyik dengan mainan. Namun sekali lagi, ini adalah perilaku yang harus diperhatikan. Alasan kita tidak boleh membiarkan anak-anak mengabaikan kita karena itu dapat membuat kita frustrasi dan kemudian menjadi reaktif, lalu akhirnya berteriak. Jadi, yang terbaik adalah terhubung terlebih dahulu. Bergabung dengan dunia mereka, mendapatkan perhatian mereka, dan kemudian memberikan arahan. Atau bahkan lebih baik, menunggu sampai mereka secara alami melihat ke atas dan melakukan kontak mata dengan kita.
    7. Tidak menghormati batasan
      Anak-anak harus memahami untuk tidak melakukan sesuatu hal jika mereka disuruh untuk berhenti. Misalnya, mereka sudah tidak boleh menggelitik temannya jika disuruh berhenti. Persetujuan adalah bagian penting dari kehidupan dan itu adalah tugas kita untuk mengajarkannya kepada anak-anak ketika mereka masih kecil. Kita perlu menjelaskan mengapa penting untuk berhenti ketika orang lain memintanya. Kita harus memberi contoh juga pada anak. Jadi, ketika kita menggelitik anak-anak dan mereka meminta untuk berhenti, segera berhenti agar mereka tahu dan menghormati batas-batas pribadi mereka.
    8. Mengumpat
      Setiap orangtua kemungkinan akan mendengar anak-anaknya mengumpat pada suatu waktu. Meskipun awalnya mungkin lucu, ini juga saat yang tepat untuk mengajari konteks kata-kata yang bisa dilontarkan dan yang tidak pantas. Misalnya, tidak apa-apa untuk bertanya kepada orang dewasa apa artinya sebuah kata, tetapi jangan menggunakan tersebut saat sedang marah. Untuk menghentikan mereka menggunakan kata-kata yang tidak pantas, berhati-hatilah dalam bicara. Kita bisa mengajari anak-anak kata-kata kuat, bukan umpatan, karena sering kali mereka hanya ingin bermain dengan bahasa baru dan menyampaikan kekuatan perasaan mereka.

    About : Citra Dewi Amd. Keb

    Citra Dewi Amd. Keb

    Bidan Citra Dewi Am.Keb merupakan alumnus Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi angkatan 2016 yang lahir pada 15 juni 1995. Aktif sebagai Interactive Medical Advisor di www.curhatbidan.com. Bagi saya menjadi seorang bidan adalah pekerjaan mulia yang memberikan pelayanan dengan hati nurani. Bidan berperan dalam luang lingkup kesehatan dasar masyarakat. Mulai dari bayi, remaja, pasangan usia subur sampai lanjut usia. Saya berharap mampu memberikan pelayanan kesehatan keluarga anda.

    Untuk konsultasi via WhatsApp klik disini :

  • Bagikan Artikel :

    Terkahir Di Edit : August 13, 2021

    Pertanyaan Pengunjung :

    Masalah keputihan

  • Oleh : Venny Molan
  • 1 tahun, 4 bulan yang lalu

    Selamat pagi dok.. mau bertnya apakah keputihan yg dialami setelah haid sampai pada jelang haid itu normal ya? Keputihan seiring berwarna putih kehijauan dan terasa gatal… Apakah ada solusinya ? Mohon masukannya

  • Oleh : Venny Molan
  • keluhan miss V

  • Oleh : Vila Okta Sabela
  • 1 tahun, 3 bulan yang lalu

    Assalamualaikum, saya bertanya dibagian miss V sudah lama ada benjolan kecil didalam labia mayora dan minora, jika di pegang2 akan terasa gatal memerah dan BAK pun ada nyeri sedikit. bisa jg dibiarkan tidak dipegang2 benjolannya mengecil . tetapi saya tidak pernah melakukan hub.seks. jadi bagaimana dok cara menangani nya keluhan tersebut.

  • Oleh : Vila Okta Sabela
  • ingin tahu masa kesuburan

  • Oleh : ludiana nisa
  • 1 tahun, 3 bulan yang lalu

    dok saya ingin tanya saya haid tgl 25 masa subur saya tanggal berapa ya tolong bimbingan ny ya dok terimalasih

  • Oleh : ludiana nisa
  • Cari nama anak

  • Oleh : Henny Diastara
  • 4 tahun, 2 bulan yang lalu

    Cari nama anak muslim awalan a

    Ada Kontraksi Tapi Tidak Melahirkan

  • Oleh : Salma Syarifah Latipah
  • 6 tahun yang lalu

    Selamat pagi mba bidan,

    Saat ini saya tengah mengandung usia kehamilan 8 bulan 1 minggu. Akhir akhir ini saya sering merasa sakit seperti orang yang mau melahirkan, dan kemarin rasa sakitnya sangat kuat seperti kontraksi yang biasanya datang ketika mau lahiran. Tapi kemarin saya cek ke dokter kandungan, katanya hal itu wajar saja dan kemungkinan bayi saya akan lahir sekitar 2-3 minggu lagi. Yang mau saya tanyakan, apakah hal tersebut wajar? Saya takut terjadi apa apa dengan bayi saya. Terimakasih, saya tunggu jawaban Anda.

    Tanya Bidan