Faktor Penyebab Bayi dengan Bibir Sumbing


Bibir sumbing adalah salah satu cacat lahir yang paling banyak dijumpai didunia. Sumbing adalah kondisi terbelah pada bibir yang dapat sampai pada langit–langit, akibat dari embriologi perkembangan struktur wajah yang mengalami gangguan. Kelainan bawaan yang terjadi ketika proses pembentukan janin ini mengakibatkan adanya celah di antara kedua sisi bibir, kanan dan juga kiri. Terkadang celah yang timbul bahkan lebih luas, beberapa diantaranya justru mencapai langit-langit hingga merusak estetika dari cuping hidung (labio palato gnato schizis).

Bayi yang terlahir dengan cacat semacam ini tentunya akan mengalami kesulitan tersendiri di dalam koordinasi dan juga pengolahan nafas, sehingga tanda-tanda yang paling awal yaitu adanya kesulitan di dalam menghisap ketika menyusui. Anak akan bingung karena di saat menghisap terdapat cairan yang justru akan melewati lubang yang berada di langit-langit sehingga secara tiba-tiba anak akan tersedak.

Dilihat secara medis, hal ini disebabkan akibat adanya inkompetensi yang berasal dari veloferingael clossure. Seharusnya aliran dari rongga hidung menuju ke saluran pernapasan terpisah dengan saluran makan yang berasal dari rongga mulut. Meskipun secara anatomis normalnya setiap orang memiliki langit-langit mulut sebagai pembatasnya. Sehingga ketika minum atau makan akan bingung, terkadang bahkan terlihat seperti berhenti bernafas dan malas makan, padahal sang anak takut untuk menelan karena dia sangat mengetahui bahwa nantinya dia akan tersedak.

Penanganan Bibir Sumbing

Intervensi bedah dari para dokter spesialis bedah plastik sendiri umumnya membuat koreksi bahwa deformitas tersebut sebenarnya dapat diatasi. Operasi dapat dilaksanakan jika penderita memenuhi beberapa syarat seperti:

a. Berat badan diatas dari 5 kg.

b. Hemoglobin lebih dari 10 gr%.

c. Usia lebih dari 10 minggu atau sekitar 3 bulan.

Kendala Kemampuan Bicara pada Bibir Sumbing

Kendala yang mungkin saja akan sangat terasa adalah ketika pasien mulai mengalami penurunan di dalam kedisiplinan latihan. Hal ini biasanya disebabkan karena orang tua yang berfikir bahwa secara kosmetik anak-anak mereka sudah cakap dengan celah yang sudah menutup. Padahal pada faktanya tidak semua anak sama di dalam meraih kemampuan bicara mereka.

Sementara itu kendala lainnya adalah adanya keberagaman bahasa daerah. Terutama pada keluarga yang menerapkan bilingualistik pada pola asuh anak. Misalnya saja seperti orang tua yang cenderung berbicara di dalam bahasa Indonesia sedangkan sang anak dengan pengasuhnya berbicara di dalam bahasa daerah. Hal-hal semacam ini tentu saja akan sangat memusingkan sang anak, termasuk juga menyulitkan tim dokter yang bertugas menanganinya.

Maka dari itu, kesepakatan terhadap pola dari pengasuhan anak dan juga kedislipinan latihan sangat berperan besar karena periode emas tumbuh kembang sang anak berada pada periode di awal kehidupannya.

Tahapan Kemampuan Bicara Anak dengan Bibir Sumbing

Seperti yang sudah diketahui bahwa anak dengan pertumbuhan yang normal hingga usia 2 minggu sampai 1 bulan mampu menghasilkan suara yang hanya sebatas reflek vokalisasi saja. Namun, setelah masuk ke usia 6 minggu yang merupakan periode babbling maka akan nampak bahwa si anak seperti mulai senang bermain-main dengan ludahnya sendiri sembari mencucu.

Kemudian di saat 6 bulan, barulah sang anak mulai meniru serta mengulang setiap kata yang didengarnya ketika periode Lalling. Ini menjadi saat dimana anak mendengar cukup baik, oleh karena itu adanya bantuan asesmen fungsi di dalam pendengaran oleh pihak Sp THT sangatlah dibutuhkan. Kondisi dari anatommi oromotor (bibir, rongga mulut dan juga jaringan sekitarnya) yang baik turut berpengaruh di kematangan kemampuan bicara dari seorang anak.

Hal seperti ini harus dikejar oleh para tim di dalam tatalaksana serta rehabilitasi kasus bibir sumbing yang diawali dengan deteksi dini oleh dokter spesialis anak (SpA). Selanjutnya seiring dengan setiap kebutuhan, multidislipin lainnya juga akan turut melengkapi.

Gejala Bibir Sumbing

Bibir sumbing akan terlihat sangat jelas pada saat bayi lahir. Pada kelainan ini akan tampak adanya cacat fisik pada bibir, dimana terlihat adanya celah pada bibir bagian atas. Antara sisi bibir kanan dan sisi bibir kiri tidak menyatu dengan sempurna. Akibat adanya celah pada bibir ini, maka dapat timbul gangguan lain sebagai berikut:

1) Gangguan makan

Gangguan ini akan diperberat pada kondisi palatoschisis. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut dapat tersedak ke dalam hidung. Bayi dengan kondisi ini harus menggunakan alat bantu makan khusus agar makanan dapat langsung masuk ke dalam lambung.

2) Infeksi telinga atau gangguan pendengaran

Risiko terjadinya infeksi pada telinga meningkat pada bayi dengan bibir sumbing. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka infeksi dapat menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran

3) Gangguan berbicara

Gangguan berbicara ini sangat terlihat jelas pada anak bibir sumbing. Suara yang diucapkan seperti berasal dari hidung dan terdengar tidak jelas atau sengau.

4) Gangguan pertumbuhan gigi

Anak-anak dengan kondisi ini memiliki resiko lebih besar untuk mengalami permasalahan gigi, seperti gigi berlubang, jumlah gigi yang kurang atau berlebih, dan sebagainya. Adanya gangguan-gangguan yang timbul akibat bibir sumbing tersebut, dapat mengganggu pertumbuhan normal pada bayi dan seringkali berat badan bayi sulit bertambah. Bibir sumbing merupakan salah satu cacat fisik yang timbul pada saat bayi lahir. Dengan adanya cacat fisik ini, maka kondisi fisik bayi harus diperiksa secara keseluruhan, lengkap, dan teliti. Karena dengan adanya 1 cacat fisik, tidak menutup kemungkinan terdapat cacat fisik lainnya di anggota tubuh yang lain

Faktor Penyebab Bibir Sumbing

Bibir sumbing terjadi karena jaringan yang ada tidak cukup untuk membentuk bibir, sehingga terdapat celah dan bibir tidak dapat menyatu sempurna. Akan tetapi mekanisme penyebab terjadinya bibir sumbing ini masih belum diketahui secara pasti. Faktor yang dapat mempengaruhi bersifat multifaktorial alias banyak faktor yang terlibat. Faktor genetik dan pengaruh lingkungan diduga memegang peranan penting. Beberapa faktor resiko lain yang dapat meningkatkan terjadinya kelainan bibir sumbing pada bayi antara lain:

1. Riwayat keluarga

Bayi yang lahir dari keluarga yang memiliki riwayat bibir sumbing, seperti saudara kandung, orang tua atau kerabat, akan beresiko lebih besar untuk mengalaminya juga

2. Obat-obatan

Ibu hamil yang mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan tanpa anjuran dokter, beresiko untuk melahirkan bayi bibir sumbing. Sebagai contoh, golongan obat anti-kejang, obat jerawat, obat anti-kanker, dan sebagainya

3. Infeksi virus

Ibu hamil yang terinfeksi virus dapat meningkatkan resiko bayi lahir cacat, salah satunya adalah kelainan bibir sumbing.

4. Paparan bahan kimia

Paparan bahan kimia atau radiasi yang berbahaya pada wanita hamil dapat meningkatkan resiko terjadinya cacat pada bayi baru lahir. Seperti rokok, alcohol, pengawet makanan, pewarna makanan buatan dan sebagainya

5. Kekurangan nutris

Kekurangan nutrisi selama kehamilan dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir. Sebagai contoh kekurangan asam folat.

Apakah Bayi dengan Bibir Sumbing dapat Tumbuh dan Berkembang dengan Normal ?

Walaupun anak dengan kelainan bibir sumbing dapat tumbuh dengan normal seperti anak-anak lainnya, namun kondisi seperti ini secara fisik dapat mengganggu penampilan estetika dan kemampuan vokal anak untuk berbicara. Oleh sebab itu anak-anak dengan bibir sumbing bisa merasa minder, malu, dan secara psikologis terganggu. Oleh karena itu, akan lebih baik jika kondisinya diperbaiki sejak dini sehingga tidak mengganggu proses belajar berbicara terutama sebelum anak masuk usia sekolah. Bibir sumbing dapat diatasi hanya dengan tindakan operasi.

Berapa Kali Operasi yang Dibutuhkan untuk Memperbaiki Bibir Sumbing ?

Operasi yang dilakukan dapat hanya 1 kali atau beberapa kali operasi, tergantung pada tingkat kesulitan kelainan bibir sumbing. Operasi yang dilakukan secara bertahap ini, dapat selesai sampai anak usia remaja. Setelah operasi selesai dilakukan, maka kemampuan bicara tidak langsung kembali seperti normal karena otot-otot di bibir belum berfungsi sempurna. Oleh karena itu tetap perlu dilakukan terapi bicara supaya mempercepat kemampuan berbicara.

Citra Dewi Amd.Keb - July 23, 2018
Diskusi Dari:
Salma Syarifah Latipah

Selamat siang bu bidan, saya mau tanya nih usia saya sekarang mau menginjak 20 tahun. Keluhan saya ini selalu kentut atau buang gas lewat vagina, apakah itu normal-normal saja untuk saya yang belum pernah melakukan hubungan suami istri? jika itu bahaya, apa yang harus saya lakukan bu? Terimakasih ditunggu jawabannya.

Perlu Jawaban
Diskusi Dari:
maya

Dok saya mau bertanya, kok akhir akhir ini kenapa ya kaki saya ini seperti ada yang mengganjal di bagian belakang lutut, susah banget di lurusinnya, kaku dan bahkan kaya ada urat ya ikut dok. Kalau saya naik atau turun tangga, itu harus pelan banget, karena kalau misalkan berjalnnya cepat kaki itu terasa tersengkak dok, itu kira kira masalah kesehatan apa ya dok? Mohon penjelasannya dok :), Terimakasih

Dijawab Oleh : maya
Diskusi Dari:
Anonymous

Selamat pagi bu bidan saya mau bertanya saat ini saya sedang hamil memasuki trimester kedua akhir-akhir ini saya sering kali marah-marah dan mood saya pun gampang berubah-ubah. Apakah saat ini saya stres dan apakah ada dampaknya bagi janin dalam kandungan saya. Jika iya bagaimana cara mengatasinya mohon jawabannya

Dijawab Oleh :
Diskusi Dari:
Claudia harapankita

Saya mau tanya kemarin saya melakukan hubungan dengan suami saya tetapi kami berencana menunda momongan. yang jadi masalah tadi siang suami saya tidak sengaja mengeluarkan sperma setetes divagina(saya tidak terasa). lalu saya langsung minum pil KB ? apa pil KB bisa menunda kehamilan? atau pil kontrasepsi darurat jauh lebih manjur dan minum pil kb setelah berhubungan justru tidak berpengaruh dan kemungkinan kehamilan masih ada?
mohon penjelassannnya

Dijawab Oleh : Claudia harapankita
Diskusi Dari:
Marini Sjola Manoppo

Maaf bu bidan saya mau tanya. istri saya hamil 5 bulan dan sering merasakan rasa sakit pada perut, apakah itu tanda gejala penyakit ataukah itu hanya reaksi sang bayi di dalam kandungan ?

Dijawab Oleh : Marini Sjola Manoppo