Resiko Kehamilan dengan Kelainan Jantung

Kehamilan dengan penyakit kardiovaskuler adalah kegawatdaruratan obsterti ginekologi yang harus ditangani sedini mungkin untuk mencegah kesakitan atau kematian ibu dan janin. Ada beberapa gejala kardiovaskuler yang timbul tanpa disadari. 

 

Jantung yang normal selama kehamilan dapat menyesuaikan diri terhadap segala perubahan sistem jantung dan pembuluh darah. Dalam hal ini karena dorongan diafragma oleh besarnya hamil sehinggadapat mengubah posisi jantung dan pembuluh darah dan terjadi perubahan darikerja jantung karena hal-hal berikut ini :

1. Pengaruh peningkatan hormon tubuh saat hamil.

2. Terjadi hemodlusi darah (peningkatan volume darah) dengan puncaknya pada kehamilan 28 sampai 32 minggu.

3. Kebutuhan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim mengakibatkan curah jantung meningkat 40% dan denyut jantung meningkat 10-15 denyut per menit.

Beban yang tidak dapat di hindari ini harus dipertimbangkan dalam memperkirakan kemampuan pasien menjalani kehamilan, persalinan dan nifas. Pada minggu ke 12 kehamilan, peningkatan faktor-faktor fisiologis (normal) terutama peningkatan volume darah dapat menyebabkan murmur sistolik (kelainan bunyi jantung). Keluhan utama penyakit jantung pada kehamilan diantaranya merasa lelah, jantungnya berdebar-debar, sesak nafas yang disertai sianosis (kebiruan), pembengkakantungkai atu terasa berat pada kehamilan muda, mengeluh tentang bertambah besarnya rahim yang tidak sesuai.

Macam-macam Kelainan Jantung pada Kehamilan

AtrialSeptal Defect (ASD)

AtrialSeptal Defect merupakan kelainan jantung kongenital yang paling sering ditemukan dalam kehamilan dan umumnya tidak menyadari gejala apapun. Biasanya perubahanpada kehamilan dapat di tolerir oleh penderita ASD kecuali peningkatan volumedarah yang terjadi pada trimester dua (usia kehamilan 13-27 minggu). Sebagian kecilpenderita ASD kemudian mengalami hipertensi. Keadaan ini dapat membahayakanjiwa penderita sehingga perlu penanganan yang hati-hati dan serius.

Stenosis Mitral

Stenosis mitral hampir selalu berhubungan dengan penyakit jantung rheumatik. Kelainan fungsi katup akan terjadi seumur hidup. Kerusakan katup ini di picu olehepisode demam rheumatik yang berulang (komplikasi yang terjadi ketika infeksi akibat bakteri streptokokus grup A tidak ditangani secara seksama). Penanganan Kelainan Jantung Stenosis Mitral pada Kehamilan

a. Penanganan antepartum (sebelum kelahiran) secara rutin kepada tenaga medis

b. Kebanyakan ibu hamil memerlukan furosemid (obat golongan diuretik yang digunakan untuk membuang cairan atau garam berlebih di dalam tubuh melalui urine) untuk menangani diuresis (kelainan pada sistem urinase dalam memproduksi urine).

c. Pemberian beta blocker (penghambat aksi dari reseptor beta-adrenergik,yang memodulasi fungsi jantung, fungsi pernafasan, dan pelebaran pembuluhdarah) untuk menurunkan denyut jantung, meningkatkan aliran darah dan menghilangnya kongesti paru (berlimpahnya darah di dalam pembuluh darah bagian paru).

Stenosis Aorta

Stenosis Aorta menandakan adanya obstruksi/peyumbatan aliran darah. Pada kasus ini menyebabkan angka kesakitanibu sekitar 17%. Risiko untuk mendapat bayi dengan kelainan jantung kongenital berkisar 17%-26%, sehingga di anjurkan untuk melakukan pemeriksaan USG pada jantung janin di trimester ke dua (usia kehamilan 13-27 minggu). Untuk penanganan stenosis aorta yaitu tirah baring dan mempertahankan volume darah yang adekuat. Pada saat persalinan dilakukan pemantauan ketat untuk mencegah hipotensi (tekanan darah rendah).

Sindroma Marfan

Sindrom Marfan adalah kelainan bawaan yang mempengaruhi jaringan ikat, yang mendukung dan menetapkan organ dan struktur lainnya dalam tubuh. Karena jaringan ikat adalah bagianintegral dari tubuh, sindrom Marfan dapat mengganggu perkembangan dan fungsi dibeberapa bagian. Gangguan paling umum terjadi di jantung, mata, pembuluh darahdan kerangka. Wanita dengan Sindrom Marfan menghadapi kemungkinan komplikasi selama kehamilan. Ancaman utama adalah peningkatan pesat pada ukuranaorta, yang dapat mengancam jiwa akibat diseksi atau pecahnya aorta. Meskipun risiko diseksi selama kehamilan tidak dapat diprediksi, dan umumnya kemungkinanini akan sangat rendah jika aorta tidak membesar pada saat sebelum kehamilan.Akan tetapi jika aorta bahkan sedikit membesar, risiko akan sangat meningkat.Kehamilan ini tidak dianjurkan jika aorta membesar. Kehamilan yang tidak di awasi tenaga kesehatan pada penyakit sindroma marfan akan mengakibatkan ruptur aorta.

Sindroma Eisenmenger

Pada sindroma ini terjadi hipertensi pulmonal yang akan menyebabkan hipoksemia (adalah kondisi kurangnya pasokan oksigen di sel dan jaringan tubuhuntuk menjalankan fungsi normalnya) serta menyebabkan kematian. Pasienakan mengalami sianosis perifer (kebiruan pada kulit dan selaput lendir,seperti pada mulut atau bibir yang terjadi akibat rendahnya kadar oksigen dalamsel darah merah), kegagalan jantung kongestif (kegagalan jantung dalam memompa pasokan darah yang dibutuhkantubuh) dan hemoptisis (batuk darah/ dahak bercampur darah yang terjadikarena ada lesi di paru-paru). Penderita sindroma eisenmenger biasanya diberitahu mengenai risiko ini untuk memilih terminasi kehamilan atau melanjutkan kehamilan.

Bila penderita memilih untuk melanjutkan kehamilan maka penangananya meliputi tirah baring secara ketat, pemberian oksigen secara continue,pemberian digoksin (salah satu obat yang digunakan dalam penanganan masalahritme jantung dan gagal jantung kongestif), pemantauan hemodinami kinfasif (aliran darah dalam system peredaran tubuh) pada periode peripartum (beberapa minggu sebelum dan sesudah melahirkan). Penderita harus dirawat di rumah sakit untuk menjamin oksigen yang adekuat. Berhubungan karenatingginya kejadian pertumbuhan janin terhambat dan kematian janin maka direkomendasikan untuk melakukan pemantauan janin secara ketat dengan pemeriksan USG, NST dan lain-lain.

Hipertensi Pulmonal Primer

Pasien hamil dengan hipertensi pulmonal biasanya direkomendasikan untuk terminasi sedini mungkin. Pada kasus ini ditemukan hypercoagulable state yang dapat mengakibatkan terjadinya emboli (pembengkakan) paru. Pemberian antikoagulan (heparin atau warfarin) dan obat-obat vasodilator pembuluh darah paru diindikasikan sedini mungkin. Pasien yang menginginkankehamilannya diteruskan harus dirawat di rumah sakit saat usia kehamilantrimester kedua dan ditangani oleh spesialis dari multidisiplin. Terminasikehamilan tetap merupakan pilihan utama pada pasien dengan hipertensi pulmonalprimer mengingat tingginya angka kematian ibu. Hipertensi pulmonar primermerupakan kelainan yang jarang ditemukan menyertai kehamilan. Angka kematian pada kehamilan ibu dengan hipertensi pulmonar bervariasi antara 30-50%. Kemajuandalam bidang pengobatan medis, anestesi, obstetri, dan kegawatdaruratan belumdapat menurunkan angka kematian ibu hamil dengan hipertensi pulmonal secara bermakna.

Salah satu masalah penting yang dihadapi oleh para medis ialah tidak semua ibu hamil bersedia untuk dilakukan terminasi kehamilan. Kasus demikian memerlukan beberapa pendekatan pada semua fase kehamilan dan kondisi ibu perlu dimonitor dan ditatalaksana dengan baik. Aktivitas fisik harus diminimalisasi untuk mencegah meningkatnya bebansirkulasi. Untuk optimalisasi monitoring, pasien harus dirawat di rumah sakitsetelah usia kehamilan 20 minggu atau lebih awal bila timbul keluhan. Pada masakehamilan, perlu dipertimbangkan pemberian obat-obat vasodilator pembuluh darahparu. Epoprosterenol iv secara continue terbukti menurunkan resistensi vaskular paru dan memperbaiki fungsi ventrikel kanan pada beberapa kasus serial dengan hipertensi pulmonal primer maupun sekunder. Pemberian obat antitrombotik pada ibu hamilterus mengundang kontroversi, tetapi pencegahan terhadap kejadian tromboemboli secara umum direkomendasikan pada pasien hipertensi pulmonar.

Pada saat kehamilan,penentuan cara persalinan apakah per vaginam atau seksio sesaria secara restrospektif juga menentukan prognosis dari ibu. Dikatakan bahwa angkakematian pada persalinan per vaginam mencapai 30% sedangkan pada seksio sesaria mencapai 50%. Hal ini mungkin disebabkan karena seksio sesaria dilakukan padaibu hamil yang mengalami ketidakstabilan hemodinamik. Pemberian epoprosterenoliv selama persalinan pernah dilaporkan pada kasus penurunan curah jantungdengan hasil tercapainya kestabilan hemodinamik pada ibu. NO intra-operatifjuga dapat digunakan untuk menurunkan tekanan arteri pulmonar.

Kardiomiopati Peripartum

Kardiomiopati peripartum merupakan kelainan otot jantung yangterjadi di sekitar masa persalinan. Biasanya terjadi antara sebulan sebelumsampai lima bulan setelah melahirkan. Kardiomiopati peripartum terjadi karenakelainan otot jantung yang ditandai dengan membengkaknya rongga-rongga jantung.Akibat membengkaknya jantung, kemampuan pompa jantung menurun. Sebagianahli berpendapat gejala penyakit ini bisa mulai muncul sejak kehamilantrimester kedua. Gejala kardiomiopati peripartum yaitu mudah merasa lelah, Sesaknapas, jantung berdebar-debar, Mengalami pembengkakan, khususnya di bagiantungkai.

Penanganan kardiomiopati peripartum berupa tirah baring, hindari aktifitas fisik,pengobatan kegagalan jantung kongestif dengan goksi dan diuretik. Berhubungan dengan meningkatnyarisiko tromboembolik maka perlu dipertimbangkan pemberian heparin (eparin adalah obat yang digunakan untuk mencegah danmenangani penggumpalan darah)

Citra Dewi Amd.Keb - July 25, 2018
Diskusi Dari:
Dian Poenya Raizo

Assalamu’alaikum Bidan saya mau tanya dalam istilah medis ada kata SADARI apa perlu kita mendatangi Bidan di kota kita dan dokter kandungan? bagaimana maksudnya?mohon dibalas.

Dijawab Oleh : Dian Poenya Raizo
Diskusi Dari:
Hilman Suhilman

Pagi bu bidan, nama saya Saddam usia 26 tahun dan saya sudah menikah hampir dua tahun tapi belum memiliki anak. Setelah diperiksa, menurut dokter saya mengidap penyakit azoospermia karena leukosit tinggi. Saya masih mengkonsumsi obat dari dokter tapi ada cara lain kah bu bidan yang lebih alami ? Terima kasih mohon dijawab bu bidan.

Perlu Jawaban
Diskusi Dari:
Tika

Mohon masukan dan saran nya bu bidan.
saya melahirkan sesar, setelah masa nifas selesai, saya berencana pakai KB IUD tetapi menurut bidan yang saya datangi tidak bisa,
harus menunggu 3 bulan setelah operasi.
Jadi, sebagai alternatif nya saya KB suntik 3 bulan, karena saya menyusui.
tapi Setelah 3 bulan kemudian saya tidak suntik KB lagi. karena saya ingin Haid normal setiap bulan nya.

Waktu itu saya suntik KB bulan oktober, sampe bulan ini saya belum dapat haid juga.
jika saya berhubungan dengan suami pasti saya menggunakan Kondom. saya ingin pakai KB IUD, tetapi sampai saat ini saya blm haid.
setau saya, pemasangan IUD dilakukan jika kita sedang haid.

pertanyaan nya:
kanapa yah, saya blm haid juga ? padahal saya sudah tidak pakai KB suntik lg.

Terima Kasih.

Dijawab Oleh : Tika
Diskusi Dari:
Tutut Kartikasari

Saya mau tanya bu bidan, apa boleh ibu hamil mengikuti olahraga? dan sebaiknya olahraga apa yang harus dipilih saat hamil?

Perlu Jawaban
Diskusi Dari:
Obey Hungkul

Pagi ibu bidan, saya mau tanya kenapa ibu hamil dilarang makan makanan pedas dan asam?

Perlu Jawaban